Spanduk penolakan petani di Majalengka/RMOLJabar

rmoljabar Puluhan petani yang tergabung dalam Petani Jatitengah bersatu, memasang patok dan spanduk berisi petisi penolakan berdirinya pabrik di lahan produktif.

Aksi penolakan tersebut, terjadi di areal sawah blok Berakulon Desa Jatitengah Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Minggu (12/01).

Koordinator petani Toto Sukarso mengatakan, para petani tidak menolak pendirian pabrik di wilayahnya, namun asalkan lahan yang diperuntukan untuk pembangunan pabrik bukan di lahan produktif.

“Jadi kami ini menolak alih fungsi lahannya bukan pendirian pabrik. Silahkan saja pabrik dibangun, tapi di lahan lain bukan disini,” ujar Toto kepada Kantor Berita RMOLJabar.

Ia menjelaskan, sedikitnya ada 20 hektare lahan yang diperlukan untuk pabrik tersebut. Dari luas lahan itu, ada 150 orang yang menolak.

Selama ini, sudah 4,5 hektare lahan yang sudah dibayar pihak perusahaan. Itupun dengan membohongi masyarakat bahwa lahan milik masyarakat lain sudah dijual.

Pihak perusahaan datang door to door. Mereka membohongi masyarakat dengan dalih lahan milik tetangganya sudah dijual.

Alasan lain petani menolak, pertama bukan zona Industri. Kemudian kalaupun jadi dampak yang ditimbulkan ketika nanti pabrik sudah berdiri. Tidak ada koordinasi, padahal keinginan masyarakat, pihak perusahaan mengajak musyawarah, dan menjelaskan ke depan setelah pabrik berdiri dampak dan tanggung jawabnya seperti apa.

Sebelumnya, pada Jumat (27/12/19) petani juga sudah bermusyawarah dengan pihak pemerintah desa Jatitengah dan BPD guna membahas polemik tersebut.

Dalam musyawarah tersebut, ada dua hal yang disepakati, yaitu petani tidak akan menjual lahan kepada pihak perusahaan dan penolakan pendirian pabrik di lahan produktif.

“Pihak pemdes dan BPD pun ikut menyetujuinya,” jelas Toto.

Sementara itu, menurut petani lainnya, Nasihin mengatakan, penolakan oleh petani berdasarkan sejumlah pertimbangan. Yaitu kepentingan untuk menyelamatkan, melindungi, dan melestarikan ekosistem kawasan Berakulon dan sekitarnya.

Pembangunan itu dinilai juga dapat berdampak pada pertanian lokal karena hilangnya sumber air bawah tanah. Aksi diwarnai dengan penandatanganan bersama diatas spanduk. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan spanduk penolakan di sejumlah titik.

“Kami yang hidup sehari-hari di lokasi meyakini bahwa dari sudut manapun pertimbangannya. Tidak layak jika di blok Berakulon didirikan pabrik,” imbuhnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here