Ilustrasi KPU/Net

rmoljabar Berbeda dengan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada umumnya, Pilkada serentak 2020 kali ini akan dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu Komisi Pamilihan Umum (KPU) Jawa Barat telah membuat skema khusus.

“Kemarin habis ikut simulasi, pemungutan dan penghitungan suara tanggal 9 Desember khusus untuk pemungutan suara karen ini tahapan puncak untuk memilih para kandidat yang di dalamnya sangat rentan penyebaran virus Covid-19 ini, maka harus melaksanakan protokol kesehatan sangat ketat karena mengumpulkan banyak orang,” kata Wakil ketua KPU Jabar, Endun Abdul Haq, Minggu (26/7).

Pihaknya mengaku telah menyiapkan protokol kesehatan yang cukup ketat dalam pelaksanaan pemungutan suara nantinya.

Mulai dari pembatasan jumlah pemilih di setiap tempat pemungutan suara (TPS) dimana jika merujuk pada Undang-Undang No. 10 tahun 2016 maksimal jumlah adalah 800. Dalam pilkada kali ini akan dibatasi menjadi 400 sampai dengan 500 orang saja dalam setiap TPS nya.

“Di Jawa barat sendiri hampir 35.000 TPS itu rata-rata 400 sampai 450 pemilih setiap TPS di Jawa barat sehingga ini mengurangi kerumunan, nah praktek protokol kesehatan jadi nanti setiap pemilih di atur kedatangan nya,” jelas Endun.

Selain itu pemilih yang datang ke TPS diwajibkan untuk menggunakan masker, sesampainya di TPS mereka diminta untuk mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, untuk selanjutnya petugas akan melakukan cek suhu tubuh dengan termogan.

“Kemudian setelah di termogan duduk ngantri, antrian pun sudah di atur jaraknya sesuai protokol lebih satu meter, itu nanti duduk di panggil untuk menerima surat suara nah setelah itu masuk ke bilik suara, di bilik suara ini mereka diberikan sarung tangan, karena mereka menggunakan sarung tangan sekali pake, jadi nanti setelah masuk bilik suara nanti disediakan alat coblos,” papar Endun.

Adapun untuk pencelupan tinta sendiri pihaknya masih terus melakukan evaluasi apakah harus mencelupkan jari seperti pada pilkada pada umumnya.

“Tinta ini mungkin untuk mengurangi penyebaran, meski sebenarnya tinta tida jadi katalisator untuk penyebaran tapi kita tidak tau itu nanti dirumuskan KPU RI jadi itu dalam proses pemungutan suara banyak protokol kesehatan yang sangat ketat yang harus dipatuhi oleh pemilih,” ujarnya.

Terakhir Endun juga meminta masyarakat agar tidak khawatir jika tidak lolos saat dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dengan termogan.

“Nanti ketika pemilih masuk d termogan suhunya di atas 37 ke atas itu pemilihan yang d lakukan tetap memilih tetapi nanti di sediakan bilik Slsuara khusus, yang tentu sangat ketat supaya nanti tidak terindikasi menularkan Covid-19, sebagai antisipasi,” tutup Endun.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here