Ilustrasi/Net

RASANYA sudah lebih dari umur jagung, warga dunia berjibaku melawan virus corona baru atau Covid-19. Sebagian bangsa masih terus berjuang dengan segala upaya, diantaranya melalui tes masif dan lockdown atau PSBB. Ada pula yang sedang menghadapi gelombang kedua penyebaran virus, seperti Korea Selatan dan RRC. Di samping itu, ada pula yang mengibarkan bendera putih dan menyatakan berdamai dengan corona sembari menyuburkan narasi tentang pilihan kebijakan herd immunity atau penciptaan kekebalan komunitas di berbagai ruang publik. Mungkin juga, sebagian negara berkembang dan miskin kesulitan membuat terobosan dalam merespon pandemi karena kantong-kantong keuangan mereka mengalami kekeringan.

Kenyataan melenyapnya kedigdayaan negara itu tentu pedih. Sebab, negara seharusnya menjadi sumber perlindungan terakhir bagi warganya. Dalam hempasan krisis multidimensi seperti ini, negara kelihatan tak mampu lagi menyediakan lengan dan bahunya sebagai alat merangkul atau tempat bersandar bagi warganya. 

Di India, novelis Arundhati Roy mengkritik tajam penanganan virus corona yang super ruwet dari pemerintah. Alih-alih menjadikan pandemik sebagai narasi kuat untuk menyerukan persatuan, pemerintah Modi justru dinilai membiarkan merebaknya narasi politik kaum nasionalis Hindu yang menyalahkan sekumpulan muslim sebagai penyabar wabah. Pembelahan negeri yang berkali-kali tersulut bara api pertikaian berbasis religi itu pun kian menganga.

Di Indonesia, pembelahan yang tajam di masyarakat juga bisa kita endus dalam berbagai percakapan publik. Residu politik sejak Pemilihan Gubernur DKI tahun 2017, alih-alih mencair, justru semakin pedas membumbui setiap isu publik mengenai penanganan pandemi. Berbagai rancangan respon dari daerah dalam waktu sekejap digagalkan atau dilemahkan oleh pusat, seakan-akan penanganan virus corona adalah balapan politik yang harus dimenangkan kubu tertentu. Di lingkaran elit kekuasaan, kita juga berkali-kali disuguhi aksi saling revisi pernyataan publik yang telah dikelurkan kolega-kolega mereka sendiri. Ironisnya, hal mendasar seperti distribusi bantuan sosial yang seharusnya menjadi torehan success story bersama, justru menjadi tontonan yang mengharukan karena ketidaksiapan terkait data warga yang sungguh-sungguh layak menerima bantuan.

Pandemik ini telah memblejeti kerapuhan pemerintah. Corona pun membuka tabir kepemimpinan yang ternyata tak kalah rentan. Hanya dalam seumur jagung, kampanye kehebatan sebuah administrasi pemerintahan menjadi tidak berarti banyak, meski dipompa dengan aneka perangkat komunikasi dan strategi secanggih apapun. Sebab, faktanya, penanganan dampak pandemik dirasakan compang-camping di sana-sini. 

Jejak digital mencatat, ada dua bulan waktu berharga (precious time), sepanjang Januari dan Februari, yang disia-siakan oleh adminsitrasi pemerintahan karena adanya penyangkalan terhadap masuknya wabah ini. Lalu, respon awal terhadap Covid-19 juga cenderung anti-sains. 

Di saat warga dunia menghindari traveling justru pemerintah kita memberikan insentif pariwisata dan diskon tiket. Muncul pula fase ketidakjujuran pemerintah dengan merahasiakan sebagian data. Alasan untuk melegitimasi tindakan itu pun teramat rapuh: bahwa perahasiaan ditujukan untuk menjaga publik dari kepanikan. Padahal, pemgalaman negara-negara lain memperlihatkan pentingnya transparansi untuk memitigasi risiko penyebaran lebih lanjut. Terakhir, kita sempat juga menyaksikan tontonan tentang inkonsistensi negara dalam mengawal kebijakan PSBB dengan membiarkan adanya berbagai kelonggaran. Akhirnya, tenaga-tenaga medis pun teriak: ambyar!, menyusul tagar #TerserahIndonesia yang bergema kencang di twitter.

Pandemi termutakhir ini, kata Arundhati Roy, menjadi sebuah gerbang yang memisahkan dunia lama dan dunia baru. Dunia lama yang kita rasakan serba normal seketika terampas dan kita tiba-tiba terhempas ke dunia baru yang diliputi ketakutan serta rasa was-was. Siapa yang tidak takut tertular virus jika harus naik kendaraan umum atau KRL? Siapa yang tidak was-was mengirim anaknya ke sekolah? Siapa yang tidak ciut nyalinya ketika harus berjubel-jubel di pasar? 

Pada akhirnya, karena vaksin tak kunjung ditemukan, kita dipaksa berdamai dengan rasa takut dan was-was itu. Juga berdamai pada kenyataan bahwa pemerintah semakin tipis kedigdayaannya dalam melindungi warganya. Kita harus menerima konsep hidup baru atau new normal yang saat ini sedang dikampanyekan berbagai institusi sebagai pilihan yang harus dijalani. 

Dalam masa yang seumur jagung ini, berbagai pelajaran kemanusiaan bisa kita petik bersama. Umat manusia diuji oleh kemampuan bertahan dalam bayang-bayang kematian, kesakitan, dan kelaparan. Kaum bani Adam juga diajarkan bersolidaritas membantu sesama yang terdampak sangat telak oleh krisis ekonomi dan hilangnya mata pencaharian. Pelajaran-pelajaran hidup itu pada akhirnya menyolidkan pengakuan manusia bahwa makhluk Tuhan yang berlabel paling sempurna ini sesungguhnya tak cukup tangguh menghadapi pandemik yang belum sepenuhnya mereka pahami. Pandemi seolah menjadi kode atau tanda ilahiah yang harus dipecahkan sebelum manusia bisa mengarungi bahtera kehidupannya dengan lebih tenang dan nyaman. New normal, semestinya pula disinari oleh semangat untuk mengabdi pada Tuhan, melayani sesama, dan berselarasan dengan alam.

Dalam keterpurukan yang teruk, manusia hanya bisa pasrah dan berserah. Dalam bilik-bilik sunyi, doa-doa dilantunkan agar Tuhan memberikan pertolongan. Pada setiap ujian berat, manusia cenderung menepi dan kembali kepada Tuhannya. Tetapi, manusia yang memiliki rasa malu tak berhenti mengetuk pintu Tuhannya, tetapi juga mendobrak keras pintu egonya sendiri. Corona menyadarkan harus menyadarkan kesalahan-kesalahan manusia. Selama ini, manusia di berbagai belahan dunia terperosok ke dalam mindset tentang kejayaan yang semu. Berlomba mengeksploitasi alam dan manusia lain untuk memuaskan hasrat konsumsi. Pembangunan berbasis eksploitasi sumber daya alam semakin mengikis habis daya tahan alam dalam melindungi kita semua. Keserakahan yang tanpa rem itu telah merusak berbagai ekosistem dan mengenyahkan berbagai habitat makhluk hidup. 

Maka, ketika aktivitas-aktivitas produksi yang masif di berbagai pusat industri terhenti, kita dapat merasakan langit cerah di kota-kota yang sebelumnya dikenal polutif di dunia. Udara Beijing, Mexico City, Delhi, hingga Teheran seketika menjadi cerah dan lebih segar. Dari Jakarta, banyak orang membagikan foto-foto sunset dan sunrise yang anggun, juga gambar Gunung Salak yang seolah baru saja bertengger di singgananya, nun jauh di selatan ibukota. Mobilitas alat transportasi yang semakin berkurang serta kebijakan untuk menjaga jarak (physical distancing) juga mengakrabkan kembali manusia dengan aktivitas bersepeda atau berjalan kaki. Tetiba, pandemi ini pun terasa menyisakan berkah. Seolah, ada langkah korektif sedang dilakukan manusia, walau mungkin temporer sifatnya.

Tetapi, kebijakan “go green” yang sedang dilakukan oleh London, Inggris, tampaknya bukan sebuah keterpaksaan sementara. Kota itu melansir sebuah kebijakan baru untuk menutup sebagian area perkotaan dari kendaraan bermotor. Salah satu aspek new normal dalam sektor transportasi itu memberikan dua alternatif pergerakan warganya: mengayuh sepeda atau kaki. Sungguh sehat bagi fisik warganya, tak menimbulkan polusi, serta anti kebisingan dan kemacetan. Komunitas kota seadakan didorong mengakrabi kesederhanaan hidup ala pedesaan.

New normal seharusnya tak sekedar pelonggaran warga untuk menjalankan aktivitas-aktivitas ekonomi dengan protokol-protokol minimalis, seperti mengurangi jumlah penumpang bis dan mewajibkan jarak antar pekerja di kantor-kantor. Bukan pula sekedar menggalakkan pemakaian masker dan cuci tangan di sekolah-sekolah. Business as usual dengan perubahan minimum itu hanya akan membuat masa pandemi ini lebih lama. Diperlukan sebuah rancangan yang lebih kuat dan komprehensif menyangkut pengaturan hidup bersama.

Konsep new normal harus berwujud rancangan pola hidup baru yang memungkinkan pengurangan konsumsi energi, penghematan konsumsi pangan, serta tata mobilitas masyarakat yang lebih ramah lingkungan. Rancangan hidup baru ke depan seharusnya mampu memfasilitasi kolaborasi kegiatan-kegiatan padat karya demi penyelamatan ekonomi warga yang terdampak krisis serta penguatan ketahanan desa atau kelurahan sebagai benteng pertahanan terakhir masyarakat Indonesia. 

Dalam tataran individual, new normal sepantasnya menjadi rem bagi syahwat manusia yang tak bakal jinak sekali ia diliarkan. Dalam konteks itu, negara dapat berperan menata dan menjaga agar warganya berlaku “benar”. Dalam konteks itu, negara diwajibkan memperbaiki kualitas demokrasi dengan mengedepankan partisipasi publik dan bukan malah meningkatkan represinya. Sebab, new normal juga menuntut negara untuk menjadi “benar” agar tak diselewengkan para pengemudinya demi memuaskan syahwat kekuasaan. 

Mudah-mudahan, kepemimpinan bangsa segera bangkit dari alpa dan menemukan berbagai terobosan kongkrit untuk merespon kelanjutan pandemi. Kita perlu memulihkan kepercayaan publik dan mencegah keputusasaan berkembang biak di masyarakat. Hanya dengan kepemimpinan yang efektif, seperti kata Fareed Zakaria, bangsa-bangsa mampu mengalahkan pandemi Covid-19. Ayo!

Jemmy Setiawan
Deputi Kaderisasi DPP Partai Demokrat

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here