Ilustrasi Corona/net

DI samping membuat takut dan cemas, ternyata virus ini membuat “pintar”. Faktanya orang jadi aneh dalam pernyataan maupun sikap.

Imunitas tubuh adalah daya tangkal yang baik dan ini mudah dipahami. Akan tetapi tidak semua upaya atau sarana untuk memperkuat imunitas menjadi pencegah virus corona menjangkiti atau menulari.

Agak “nyengir” atau terkekeh jika melihat orang menghindari salaman dengan berbagai cara. Ada yang “greeting” dengan adu kaki, adu siku, adu pergelangan tangan berbungkus jas.

Adapula yang ketika “wedding” sebelum naik panggung untuk memberi ucapan selamat di semprot pencuci tangan dulu. ASN berseragam bersalaman hanya dengan isyarat seperti salaman tetapi tidak bersentuhan.

Lalu ungkapan naif pun muncul. Sekelas Wapres menyebut corona bisa dicegah penyebaran dengan sertifikat, di NTB bilang susu kuda liar bisa cegah corona dan memperkenalkan “salam corona”, Kemenkes menyuruh makan sayur lodeh dan nasi kapau, ada Gubernur anjurkan minum kina. Presiden tidak jemu untuk “berjamu-jamu”.

Berubah menjadi ahli pengobatan semua. Tanpa naskah akademik he he.

Eh ada pula saran lucu agar meningkatkan adrenalin dengan cara aktif bercinta. Diduga corona akan lari tunggang-langgang. Makan banyak buah-buahan dan sayur-sayuran. Ya saran normatif lah itu mah.

Semestinya Kemenkes sebagai sektor terdepan penanganan kasus wabah corona lebih sigap dan sistematis memandu masyarakat. Dengan argumen dan bukti klinis yang kuat.

Jangan seperti sikap Menterinya yang mengabaikan bahaya dengan kesan “mencla-mencle”. Mulai turis yang harus dinyamankan hingga masker yang hanya digunakan oleh yang sakit atau terjangkit.

Corona adalah wabah dunia. Indonesia bukan pengecualian.

Jadi, penyakit meremehkan, berbohong, dan merasa hebat harus diubah. Pemimpin memiliki kepedulian tinggi dengan langkah dan agenda yang pasti.

Mengelola informasi dengan akurat dan tepat sasaran. Buang nuansa bagai negara terbelakang yang mengatur negara dengan cara asal-asalan.

Kita memiliki menteri, wakil menteri, dan tenaga ahli yang buanyak. Mubazir.

Unik bahwa virus corona ini ternyata bukan hanya menyerang fisik atau pernafasan, tetapi juga menyerang otak dan pikiran. Ditambah serangan jiwa atau keimanan.

Kepanikan bisa membuat kekafiran. Kerugian hakiki dari serangan virus ini adalah hancurnya fisik, akal sehat, dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWT.

Bangsa Indonesia adalah umat beragama sehingga pantas jika melakukan pencegahan secara komprehensif.

M. Rizal Fadillah

Penulis adalah pemerhati politik.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here