Sudarnoto Abdul Hakim/Net

SALAH satu sikap penting setiap individu dalam menghadapi wabah pandemik Covid-19 adalah mental pemenang (winer), bukan mental pecundang (loser).

Seorang yang bermental pemenang akan senantiasa menunjukkan enerji kuat untuk berjuang keras dengan penuh perhitungan matang, tabah dan tangguh, optimis dan tak gentar dan disiplin tinggi.

Sebagai calon pemenang, dia juga akan senantiasa tunjukkan sikap lapang dada dan membuka diri, hormat dan empati kepada orang lain, menyediakan dirinya dengan ketulusan penuh untuk berbagi dan berta’awun.

Sebaliknya,  mereka yang bermental kalah (loser), adalah mereka yang tidak memiliki keteguhan dan kedisiplinan apalagi ketangguhan untuk berjuang dengan sungguh-sungguh (ijtihad dan jihad) menghadapi tantangan dan problem besar seperti pandemik Covid-19.

Loser adalah orang-orang yang senantiasa merasa kecut dan berkecil hati, pesimis dan hopeless karena merasa tidak berdaya. Loser juga tak akan mampu membangun empati apalagi untuk peduli dan menolong orang lain, karena lebih cenderung egosentrik memikirkan diri sendiri.

Jika diperlukan, para Losers memanfaatkan kesulitan dan kesengsaraan publik untuk meraup keuntungan diri. Tak sedikit losers bisa dijumpai dalam situasi-situasi sulit seperti covid ini. Celakanya, tak sedikit juga para losers ini menggunakan dalil atau keyakinan keagamaannya. Bahkan, ada juga mereka yang  memanfaatkan pangkat sosial, birokrasi dan jabatan politiknya untuk mencari keuntungan sosial, finansial dan publisitas.

Jadi, jika pandemi Covid-19 dilihat sebagai sebuah arena besar maka akan nampak kesibukan luar biasa dan gambaran bagaimana begitu banyak orang bergerak dan berkompetisi. Ada pejuang tangguh, ada yang hopeless, ada yang sibuk dengan dirinya sendiri,  ada juga yang cari muka dan keuntungan.

Islamofobia

Ada hastag yang sangat provokatif “Corona Jihad” dan “Corona Terrorism.” Corona jihad ternyata bukan dimaksudkan sebagai jihad melawan corona. Dan corona terrorism ternyata juga bukan dimaksudkan untuk menegaskan bahwa corora senantiasa menebarkan teror ke masyarakat di mana-mana dan telah menimbulkan korban dalam jumlah yang sangat fantastik.

Dua-duanya adalah propaganda anti Islam dan umat Islam untuk menebarkan dan menguatkan spirit Islamofobia. Tapi ini tidak terjadi di Indonesia.

Adalah para aktivis dan simpatisan partai Hindu nasionalis india “Baratiya Janata Party” the ruling party di India yang menjadi garda depan menggerakkan dan memprovokasi masyarakat luas di India untuk menguatkan semangat anti Islam dan muslim.

Di kota-kota seperti Delhi, Karnataka, Talangana dan Madya Pradesh misalnya banyak poster anti Islam dan ini semakin intensif di masa pandemi ini.

Diskriminasi, pemboikotan, kekerasan verbal dan non-verbal tak terelakkan dilakukan oleh masyarakat dan bahkan oleh aparat. Muslim India memang targetnya dan korban tak terhindar.

India yang demokratis dan sekular nampaknya tak terbuktikan paling tidak di saat ini. Yang terjadi adalah sebaliknya, India yang diskrimatif, nasionalis Hindu chauvinistik yang tak memberikan ruang, martabat dan kedaulatan warga Muslim minoritas. Begitu arah politik citizenship India saat ini.

Ada perubahan penting dari hubungan agama dan negara dari “Sekularisme” menuju “Hinduisme.” Kemudian sesuai dengan UU Kewarganegaraan yang belum lama ini (sebelum merebaknya Covid-19) dibahas amandemennya (Citizenship Amandement Act. CAA), maka warga muslim India ditempatkan sebagai warga kelas dua di India. Yang kelas satu adalah warga India yang beragama Hindu.

Dampak perubahan ini terutama bagi warga muslim sangat terasa. Meskipun didukung misalnya oleh partai Islam dan organisasi dan pegiat HAM, akan tetapi hak-hak azasi umat Islam India tetap tersudut dan tersakiti.

Serangan Covid-19 telah memperburuk dan menyengsarakan umat Islam. Pasalnya, dihembus dipropagandakan secara meluas bahwa orang Islam-lah penebar wabah Corona; orang-orang Islam telah menyerang dan menteror India dengan menebarkan virus corona.

Inilah hastag “Corona Jihad” dan “Corona Terrorism” dan karena itu orang Islam India harus diberi pelajaran, dihukum dan jika perlu disingkirkan.

Media nasionalis pro pemerintah, aparat dan masyarakat bergerak memboikot, mendiskriminasi, membuly, mengintimidasi dan menteror umat Islam.

Kelompok penebar Islamofobia ini memanfaatkan dan membonceng peristiwa anggota Jamaah Tabligh yang terserang virus setelah pertemuan internasional di India dan wabah pandemik Covid-19 untuk semakin menyudutkan Islam dan umat Islam. Mereka para penebar Islamofobia adalah losers, semoga tak terjadi di Indonesia.

Humanitarianisme

Bisa dikatakan bahwa humanitarianisme adalah spirit kemanusiaan, spirit solidaritas menolong sesama manusia atas kesengsaraan sosial dan ekonomi.

Orang memandang orang lain sebagai kerabat, sebagai keluarga dan sebagai saudara dan berkewajiban untuk saling memberikan kepedulian dan membantu apalagi jika ditimpa musibah dan kemalangan.

“Ukhuwah basyariyah dan insaniyah” menguat terutama saat mengalami bencana seperti Covid-19. Arahnya adalah kesejahteraan,  ketenangan, keamanan dan kebahagiaan.

Dampak sosial ekonomi covid luar biasa dan sistemik. Proses pemiskinan memperoleh momentumnya. Economic depression yang masif menimbulkan psychological depression dan bahkan peminggiran atau marjinalisasi sosial yang semakin terasa efektif.

Situasi seperti ini bisa menimbulkan feeling of insecurity secara masif dan jika dibiarkan tak menutup kemungkinan bisa merusak ketenteraman dan keamaan.

Gerakan membangun sensitifitas kemanusiaan dan filantropi menjadi sangat tepat dilakukan. Dengan gerakan ini, maka kehidupan semakin terasa makna esensialnya tidak saja bagi diri sendiri akan tetapi juga bagi orang lain.

Islam mengajarkan soal kebermaknaan esensial hidup manusia ini. Manusia yang baik adalah dia yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Seseorang akan semakin kehilangan makna hidupnya jika semakin tidak memiliki kepekaan dan kepedulian kepada orang lain.

Mainstreaming humanitarianisme, yang dalam Islam disebut sebagai ta’awun, perlu dilakukan terutama saat menghadapi wabah pandemik Covid-19. Di sejumlah negara sekular barat, humanitarianisme muslim di tengah wabah ini semakin populer.

Bahkan, gerakan ini berhasil mengundang simpati berbagai kelompok masyarakat termasuk komunitas berbagai agama yang berbeda. Humanitarianisme muslim minoriras ini telah menginspirasi terbangunnya solidaritas nasional dan bahkan mendorong “inter religious gathering” untuk melawan Covid-19.

Pandangan masyarakat yang semula cenderung negatif terhadap Islam dan muslim, terutama di Perancis, mengalami perubahan penting menjadi positif. Sanjungan media massapun terhadap Islam bermunculan setelah menyaksikan gerakan kemanusiaan komunitas muslim yang sangat simpatik dan menyentuh.

Manusia dan kemanusiaan memang merupakan salah satu tema sentral dari al-Qur’an. Atas dasar inilah maka gerakan filantropi dan humanitarianisme dilakukan umat Islam.

Ini juga bisa menjadi entri point untuk menegaskan dan mengembangkan narasi bahwa Islam adalah “agama kemanusiaan” dan “agama peradaban” yang menjunjung tinggi dan melindungi kehormatan,  martabat dan kedaulatan manusia. Wallahu a’lam.

 

Sudarnoto Abdul Hakim

Associate Professor UIN Jakarta, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP. Muhammadiyah, dan Ketua MUI Bidang HLN-KI.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here