Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Saptono Erlangga/RMOLJabar

rmoljabar Meski belum ada titik temu antara warga dan pihak pengembang, eksekusi lahan dan bangunan untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung di Kampung Neglajaya, RT 02/12, Desa Tagogapu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tetap dilangsungkan.

Akibatnya, sejumlah warga merasa kebingungan menentukan tempat tinggal lantaran rumah yang didiaminya sejak puluhan tahun silam, kini telah rata dengan tanah.

Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Saptono Erlangga mengatakan, pihaknya telah menjembatani warga terdampak proyek kereta cepat yang dilakukan pengembang PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Akan tetapi, tidak semua warga menemukan kesepakatan.

“Dari awal kita sudah menjembatani dari pihak masyarakat dengan langkah-langkah persuasif, ada yang mendapat titik temu, ada yang masih belum, sampai eksekusi ini,” ujar Erlangga di lokasi, Senin (24/2).

Disampaikan Erlangga, sementara pemilik lahan dan rumah di kampung tersebut yang telah bersepakat, sudah menerima konsinyasi, sehingga saat ini memiliki tempat pengganti rumah lamanya.

“Sebagian warga yang telah menerima dari awal, sudah punya rumah lagi yang diatas itu,” imbuhnya.

Terkait penolakan warga, Erlangga menyebut, Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) rumah warga  terdampak eksekusi lahan telah sesuai standarisasi. Bahkan, ganti rugi yang dijanjikan, dua kali lipat besarannya jika dibandingkan harga pasaran tanah saat ini di kampung tersebut.

Kendati begitu, dia menuturkan, jika warga masih merasa keberatan, pihaknya mempersilakan untuk menempuh jalur hukum. “Sebetulnya di dalam NJOP sudah ada standar nilainya. Kalau terkait keberatan, warga silakan mengajukan proses hukum karena tugas Polri di sini hanya melaksanakan pengamanan,” ungkapnya.

Sementara itu, pemilik lahan atas nama Ijah, Sumarna (50) menilai, eksekusi lahan dan bangunan rumahnya cacat hukum. Sebab, tidak dilengkapi dasar yang kuat serta diputuskan secara sepihak.

“Ini (eksekusi lahan) cacat hukum, apa dasarnya? Saya belum pernah berperkara di pengadilan kok tiba-tiba ada eksekusi,” ucapnya.

Karena menolak eksekusi, dia mengakui, Ijah belum menyiapkan apa-apa termasuk, di mana drinya dan keluarga akan tinggal setelah bangunan rumahnya kini telah rata dengan tanah.

“Saya belum tahu mau tinggal dimana. Gak tau kemana, gimana nanti aja. Saya masih pusing sekarang,” tukasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here