Gara-Gara Isu Corona, Harga Bawang Putih Meroket

Gara-Gara Isu Corona, Harga Bawang Putih Meroket

Tingginya harga bawang putih di Pasar Tradisional Rengasdengkok Kabupaten Karawang diduga akibat minimnya pasokan dari distributor. Sehingga harga bawang putih yang biasa dijual Rp20 ribu kilogram naik menjadi Rp80 ribu per kilogram.


 

Akibat harga yang mengalami lonjakan, stok bawang putih di Pasar Tradisional Rengasdengkok kini mengalami penurunan.

Salah seorang pedagang pasar tradisional Rengasdengklok Uni (43) mengaku, kenaikan harga komoditas bawang putih sudah terjadi sejak satu minggu ini,

"Satu minggu kemarin harga masih berkisar antara Rp50 ribu, namun hari ini sudah menjadiRp80 ribu. Normalnya sih cuma Rp20 ribu,” ungkapnya, Selasa (11/2).

Menurutnya, akibat kenaikan harga bawang putih, para pedagang di Pasar tradisional hanya mampu menjual sebanyak 10 kilogram setiap hari dari biasanya sampai 30 kilogram.

"Sebagian besar pembeli pun cuma membeli paling banyak satu ons saja karena harganya mahal. Ada juga yang biasa beli satu kilo sekarang hanya beli seperempat kilo saja,” ujarnya.

Senada, Ade (46) mengatakan, kenaikan bawang putih terjadi saat maraknya isu virus corona di Indonesia. Pasalnya bawang putih yang dijual para pedagang merupakan impor dari Negara Tiongkok yang terkena wabah virus corona.

"Tau Benar atau tau tidak, yang pasti gara-gara musim virus corona harga bawang putih jadi naik. Mungkin bawang putih impor dari Cina jadi terpengaruh,” kata Ade.

Sementara, salah seorang pembeli, Wiwin (33), dirinya kaget saat tahu harga bawang putih mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

"Biasanya bawang putih kalau naik cuman sedikit sekarang sampai lebih dari 50 persen kenaikannya, infonya sih gara-gara virus corona, jadi saya belinya secukupnya saja,” ucapnya.

Selain bawang putih, sejumlah komoditas lainnya juga mengalami kenaikan harga. Cabai rawit merah yang semula berharga Rp45 ribu per kilogram menjadi Rp70 ribu. Sedangkan bawang bombay dari Rp25 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram.