Ilustrasi Pilkada 2020/Net

rmoljabar Fenomena seorang politisi loncat partai merupakan hal biasa yang terjadi jelang sebuah ajang Pemilu. Ada beberapa alasan yang sering melatar belakangi perpindahan politisi dari partai lama ke partai baru, salahsatu alasan yang paling kuat kekecewaan terhadap kebijakan yang diterbitkan partai.

Begitu disampaikan Pengamat Politik dan Pemerintahan dari Universitas Nurtanio (Unur) Bandung Djamu Kertabudi, Kamis (30/7).

“Politisi hengkang dari satu partai kemudian berlabuh ke partai lain memang kerap terjadi di perpolitikan tanah air baik di level pusat maupun di kewilayahan,” ungkap Djamu ketika dikonfirmasi wartawan.

Djamu menambahkan, perpindahan armada politik dari seorang politisi kerap disorot lantaran bertepatan dengan momen pemilu baik itu Pileg maupun Pilkada seperti yang saat ini terjadi di Kabupaten Bandung.

“Seperti kita ketahui bersama menghadapi Pilkada Bandung seorang kader Golkar (Dadang Supriatna) hengkang ke PKB dan jadi bakal calon bupati. Artinya melawan figur dari partai sebelumnya,” kata Djamu.

Dalam catatan Djamu, situasi ini sempat terjadi di Pilkada 2018 lalu untuk Kabupaten Bandung Barat dimana Bupati saat ini (Aa Umbara) hengkang (ke Nasdem dari PDIP) dan berhasil dalam menang kontestasi itu.

“Lantas apakah Dadang Supriatna yang berdampingan dengan artis Sahrul Gunawan di Pilkada 2020 ini akan bernasib sama dengan Aa Umbara yang didampingi artis Hengky Kurniawan? Kita lihat saja,” jelasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here