Ketua Umum FKKBK, Doddy Yusuf Wibisono (kiri) bersama Jaksa Agung Muda Intelijen, Jan S. Maringka/RMOLJabar

rmoljabar Revolusi Mental yang digaungkan pemerintah dinilai Forum Komunikasi Keluarga Besar Kejaksaan (FKKBK) tidak cukup untuk mengentaskan permasalahan korupsi yang kini masih mengakar di Indonesia.

 

Pasalnya, tidak hanya di kalangan elitis, para pejabat teras pun sampai saat ini banyak yang tersandung kasus korupsi akibat memakan uang rakyat. Banyaknya kasus korupsi di negara yang telah merdeka sejak 75 tahun lalu, juga membuat prihatin..

Ketua Umum FKKBK, Doddy Yusuf Wibisono mengatakan, anti korupsi yang digaungkan hanya sebatas ucapan saja, sehingga bangsa Indonesia saat ini tidak sebatas perlu revolusi mental, melainkan juga butuh hadirnya Revolusi IMAM.

Revolusi IMAM sendiri, jelasnya, merupakan akronim dari Revolusi Iman, Moral, Akhlak, dan Mental. Dengan revolusi tersebut, orang akan terbangun kesadarannya untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri, bangsa, dan negaranya.

“Kita lihat selama ini anti korupsi itu baru sebatas ‘Lips’ saja. Kenyataanya masih banyak pejabat korupsi,” ungkap Doddy saat ditemui di Lembang, Sabtu (18/o1).

Dipaparkan dia, tidak hanya pemimpin, tetapi abdi negara pun mesti bisa melayani dan mengayomi masyarakat, disamping menunjukkan perilaku yang baik untuk diteladani masyarakat. “Bukan memperkaya diri sendiri atau kelompok,” ujarnya.

Maraknya korupsi di Indonesia yang dilakukan mulai dari lapisan terbawah sampai pemerintahan pusat, mengakibatkan permasalahan tersebut seolah menjadi hal biasa untuk dilakukan.

Mirisnya, lanjut dia, korupsi telah membudaya dan mendarah daging sehingga Revolusi IMAM ini harus mulai diimplementasikan mulai dari diri terutama, di kalangan para pemimpin diberbagai tingkatan sampai pemimpin di tingkat desa sekalipun.

“Korupsi ini kan akibat ada yang rusak pada diri manusia. Manusia sudah tidak takut lagi sama Tuhan, berarti iman luntur, sudah tidak malu makan uang rakyat berarti moral dan akhlak sudah pada bokbrok,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here