M. Rizal Fadillah/Net

HASTO Kristiyanto yang beragama Katolik telah mencoba menohok umat Islam baik secara samar maupun terang-terangan. Ketika aspirasi kuat dan tak mungkin dibendung bahwa Tap MPRS larangan PKI dan Komunisme harus masuk RUU HIP, Hasto Kristiyanto malah menyatakan PDIP akan menambah larangan PKI dengan liberalisme/kapitalisme, radikalisme, dan khilafahisme.

Soal liberalisme dan kapitalisme tidak ada masalah karena itu gandengan dari sosialisme dan komunisme. Meski ungkapan itu hanya membuat senyum saja “memercik air di dulang terpercik muka sendiri”.

Hampir dapat dikatakan bahwa kesuksesan pemenangan pemilu legislatif maupun presiden adalah produk budaya kapitalisme dan liberalisme. Pidato Surya Paloh di depan civitas academica UI dapat dijadikan pelajaran dan pencerminan.

Radikalisme bukan ideologi. Radikalisme adalah cara kerja atau model. Bukan ideologi atau cita-cita yang diperjuangkan. Bisa terjadi dimana saja, pada agama manapun, atau di partai apapun. Jadi tidak ekivalen. Sayangnya pada rezim ini radikalisme selalu diarahkan pada umat Islam.

Khilafahisme juga diarahkan pada umat Islam lagi. Khilafahisme bukan ideologi. Apalagi yang disejajarkan dengan komunisme. Khilafah adalah sistem pemerintahan yang dikenal sejak Nabi Muhammad SAW wafat. Itu diakui sebagai sistem pemerintahan yang baik dalam kesejarahannya.

Pernyataan Hasto yang menohok umat Islam adalah ngawur dan “out of order”. PKI dan komunisme dilarang atas dasar landasan hukum yang kuat. Menambah nambah justru membuat persoalan baru. Harus jelas dahulu landasan hukumnya, jika tidak bukan saja bias tetapi juga bisa mengarah pada penistaan. Apalagi menyinggung agama.

Jika “ngotot” dan memaksakan hal yang di luar substansi dari reaksi publik soal pembatalan RUU HIP ajuan PDIP yang berbau komunis dengan menambah “isme-isme” lain, maka sangat wajar jika ada usul larangan juga pada dua isme yang mengganggu dan meresahkan rakyat dan umat Islam yaitu “salibisme” dan “chinaisme”.

Salibisme bukan berarti agama Kristen yang dilarang tetapi kristenisasi dengan upaya masif dan sistemik melakukan pemurtadan umat. Baik melalui pengobatan, pemberian materi, politik kekuasaan, tekanan bisnis, atau lainnya. Dominasi politik “kristen internasional” juga menjadi bagian dari salibisme. Demikian juga dengan merusak kerukunan seperti kasus di Sumatera Barat.

Sering muncul propaganda bahwa umat Islam adalah kelompok intoleran padahal umat lain lah yang justru bersikap intoleran tersebut.

Chinaisme adalah takluknya aspek budaya, ekonomi, maupun politik kepada hegemoni bangsa China. RRC adalah negara sentral komando. Penundukan sukarela maupun paksa padahal yang serba China adalah bertentangan dengan nasionalisme bangsa. Memarjinalkan kaum pribumi pada aspek budaya, ekonomi, hukum dan politik.

Chinaisme dekat-dekat pula dengan komunisme yang dipastikan sangat berbahaya.

Semestinya persoalan RUU HIP disikapi bijak. Faktanya adalah rakyat telah menolak. Ada muatan yang mengganggu. Tidak perlu disikapi “terima atau revisi dengan syarat”. Rakyat khususnya umat Islam sudah bersikap tetap menolak RUU. Tak perlu berapologi apalagi menambah nambah larangan ala Hasto Kristiyanto.

Jika Hasto terus bersemangat menyodok umat, maka usulannya adalah tegas larang juga salibisme dan chinaisme.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here