Recep Tayyip Erdogan/Net

rmoljabar Sebuah majalah Prancis mengulas peranan Erdogan dalam konflik Libya. Presiden Turki itu disebut sebagai satu-satunya pemain di Libya yang bertindak dengan cara yang jujur. Mereka juga menyebut pemerintah Turki tidak menyembunyikan agenda regionalnya.

Menurut artikel di Le Canard enchaine, yang memuat juga pendapat mantan diplomat Prancis, presiden Turki adalah satu-satunya yang tidak menyembunyikan tujuan militer, geopolitik dan energinya di Mediterania, Libya dan Siprus.

Selain itu, artikel tersebut mengatakan pemerintah Libya melihat pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi baru-baru ini sebagai deklarasi perang dan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara itu. Di mana ia berpendapat bahwa intervensi langsung di Libya adalah suatu kemungkinan.

Kabarnya, komandan pemberontak Libya, Khalifa Haftar telah memercayai dukungan Rusia, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi dan Prancis. Namun, pemerintah Libya yang sah berhasil mengalahkan Haftar dengan dukungan Turki, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (25/6).

Libya telah dilanda perang saudara sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011. Pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 lalu di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya penyelesaian politik jangka panjang telah gagal akibat serangan militer oleh pasukan Haftar.

Dilansir Kantor Berita Politik RMOL, PBB mengakui pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj sebagai otoritas sah negara itu ketika Tripoli memerangi milisi Haftar.

Pemerintah meluncurkan Operation Peace Storm pada bulan Maret untuk melawan serangan Haftar di ibu kota Tripoli dan baru-baru ini mereka berhasil membebaskan lokasi-lokasi strategis termasuk Tarhuna, benteng terakhir Haftar di Libya barat.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here