Guru Besar FK Unait Abdurachman/Ist

HUKUM pasangan dipublikasikan pertama kali oleh penulis pada tahun 2014 dalam buku “Dasar-dasar Kedokteran Timur”.Hukum pasangan mengacu kepada firman Allah bahwa selain al-Khaliq (Sang Maha Pencipta), seluruh makhluk terdiri hanya sepasang (QS. 36:36). Ada jin-manusia, laki-perempuan, siang-malam, mudah-sulit, sehat-sakit, surga-neraka.

Ketika akan menghadapi pertempuran yang tidak berimbang, seorang panglima perang pasukan China mendapat ilham. Ia mengumpulkan para pimpinan pasukan untuk berundi.

Dikabarkannya kepada para pimpinan pasukan bahwa tentara mereka semua dalam kelelahan, karena baru kembali dari pertempuran dahsyat. Sedang sekarang, Raja memerintahkan untuk segera melawan pasukan lain yang jumlahnya besar, masih segar, dalam kesiapan tempur.

Dimajukan satu usulan agar dilakukan undi koin mata uang. Bila sisi angka yang muncul, boleh jadi mereka harus segera pulang, kembali ke kerajaan. Sedang bila gambar raja yang muncul, berarti Tuhan akan memenangkan mereka dalam pertempuran ini.

Cling, cling, cling, koin dilempar tiga kali berurutan, ternyata setiap kali dilempar gambar raja yang muncul. Serentak mereka menyaksikan kejadian itu dengan mata berbinar, keyakinan menjulang akan adanya pertolongan Tuhan bahwa mereka akan dimenangkan.

Pertempuran tidak berimbang berlangsung seru, dahsyat luar biasa. Menang! Itulah yang terjadi. Mereka membawa kepala jenderal perang musuh, untuk ditunjukkan wajahnya kepada sang Raja. Tak pelak sang Raja heran tak berkesudahan. Serentak ia memanggil sang jenderal perang menanyakan teknik yang dikembangkan, sehingga prediksi kalah menjadi menang.

Sang jenderal berkisah bahwa dia melakukan undian menggunakan koin mata uang. Koin itu berisikan sepasang sisi yang semuanya disengaja dibuat bergambar wajah Raja (koin satu direkatkan kepada yang lain, hanya bersisikan wajah raja). Sehingga kemana pun koin dilempar, pastilah yang keluar wajah sang Raja.

Kehadiran wajah raja menjadikan seluruh prajurit yakin bahwa kemenangan dari Tuhan untuk mereka. Mereka maju dengan segenap keyakinan, dan ternyata mereka menang. Anugerah Tuhan melalui upaya memilih hanya jalan menang.

Sepasang berarti bila memilih salah satu sisi, meninggalkan sisi yang lain. Tidak bisa memilih semua sisi pada saat bersamaan. Walau berulangkali dilempar karena seluruh sisi berhiaskan wajah raja maka pastilah hanya wajah raja yang muncul.

Di dalam cara menyelesaikan masalah muncul pasangan mudah-sulit. Berhadapan dengan kondisi tubuh ditemui situasi sehat-sakit. Dalam perjalanan menuju kehidupan menjelang ada sepasang tempat berdiam surga-neraka. Pertanyaan menariknya adalah bisakah sesesorang hanya memilih yang mudah, selalu sehat dan masuk surga? Sebagaimana pilihan sisi mata uang wajah raja-angka?

Petunjuk al-Quran menyatakan pasti bisa asal mau. Al-Quran tidak menyangkal bahwa di dalam hukum pasangan tidaklah berlaku nilai mutlak. Contoh, malam hari bisa mulai dari sore yang masih melihat sedikit matahari. Berlanjut perlahan menuju gelap sempurna di pertengahan malam.

Demikian juga siang, mulai dari pagi yang cerah sampai kepada siang hari bertemperatur maksimal. Demi malam bila telah membuncah gelapnya, demi siang bila telah menjelma, dan apa yang diciptakan laki-laki dan perempuan (sepasang). Sungguh usaha-usahamu itu hanya terdiri dari sepasang. Memilih yang mudah dan dimudahkan atau sebaliknya.

Adapun orang lebih suka memberi dalam rangka mengabdi kepada-Nya, dan yakin akan balasan kebaikan yang pasti dariNya maka dia dimudahkan mendapatkan solusi dari setiap persoalan, juga dimudahkan untuk menyelesaikan solusi itu. Sedangkankan siapa saja yang memilih pelit, merasa tidak butuh, maka mudah berhadapan dengan kesulitan demi kesulitan (QS. 92:1-10).

Pada suatu hari ada seorang petani yang sedang berteduh di sebuah pohon untuk berlindung dari teriknya matahari. Dirinya perlu istirahat setelah mengolah lahan yang dimilikinya. Sudah lama belum memperoleh aliran air.

Banyak pula tanah lahan di sebelah-sebelah di wilayah itu ditimpa kekeringan. Hujan belum datang. Hampir satu setengah tahun. Timbul harapan jika sebentar lagi musim hujan datang membasahi tanah lahannya itu.

Dalam keadaan lelah dan penuh harap, rasa kantuk membawanya terlelap tidur. Belum sempat lama terpejam, telinganya dikejutkan oleh suara yang menyeru, “Siramilah tanah si Fulan!”

Ia tersentak sambil heran terhadap perintah, “Siramilah kebun si fulan!” Nama itu memang belum biasa dia dengar. Boleh jadi ada salah seorang pemilik lahan bernama si Fulan.

Hatinya terus bertanya siapakah si Fulan itu? Mengapa kebunnya yang diminta untuk disirami, bukan lahannya. Bukankah seluruh pemilik lahan yang di sekitar sini membutuhkan siraman air?

Dalam heran yang masih mengundang tanya ia mencari sumber suara itu. Bersamaan dengan itu dia melihat gumpalan awan berair menuju lahan yang tidak sulit ia datangi.

Atas izin Allah, awan itu menghamburkan air. Didapatinya di bawah tempat air tercurah seorang lelaki yang sedang menggarap lahan.

Tidak sabar ia bertanya kepada pemilik lahan itu, “Wahai hamba Allah, siapa namamu?”.

Petani itu menjawab dengan ramah, ”Saya Fulan bin Fulan. Wahai hamba Allah, mengapa kamu bertanya tentang namaku,” ia merasa ada suatu yang tidak biasa.

”Sungguh aku mendengar suara di awan yang airnya mengaliri lahanmu dan sebelumnya awan itu berkata, Siramilah kebun fulan, yaitu namamu,” katanya.

”O, begitukah. Apakah Anda wahai hamba Allah tidak salah mendengar?” katanya penuh tanya.

”Demi Allah, saya tidak salah mendengar. Untuk itu, saya sampai ke lahan milikimu ini,” sambutnya segera.

”Jika demikian, mungkin itu kebetulan,” kata si Fulan. Si petani yang mengikuti awan itu bertanya lagi, ”Apa yang sebenarnya yang telah kamu lakukan?” katanya.

Fulan spontan menjawab, ”Karena kamu mengatakan itu, baiklah aku ceritakan. Sepertiga hasil kebun aku sedekahkan, sepertiga aku makan bersama keluargaku, sepertiga lagi digunakan untuk bertanam ulang sebagi bibit.”

Berita ringkas di atas menjadi bahan evaluasi simple bagi siapa pun kita. Siapa kita, termasuk yang mudah mengalami kesulitan? Atau selalu gampang memperoleh solusi yang mudah di dalam setiap persoalan? Jawabnya adalah seberapa mudah kita memberi dalam rangka mengabdi kepada-Nya.

Mari kita berlatih untuk senang selalu memberi di jalan Tuhan agar selalu mudah menemukan solusi terbaik dari setiap  persoalan dan mudah menyelesaikan setiap solusi yang dipilih, termasuk solusi atasi pandemik Covid-19! 

Abdurachman
Gurubesar FK Universitas Airlangga, yang juga Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), dan Executive Board Member of APICA

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here