Menakar Efektivitas Kurikulum Covid-19

Menakar Efektivitas Kurikulum Covid-19
Neni Nur Hayati/Ist

ENAM bulan terakhir ini menjadi waktu yang berat untuk Indonesia harus menghadapi pandemic covid-19 yang telah memicu krisis multidimensi, tak terkecuali dalam bidang pendidikan.  

Berbagai macam hal polemik dan dinamika yang terjadi atas kebijakan pemangku kepentingan tentu menjadi bahan refleksi dan evaluasi bersama, termasuk pada penggunaan kurikulum pembelajaran. 

Selama pandemi covid-19 berlangsung, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membolehkan sekolah untuk melakukan penyederhanaan kurikulum sesuai dengan kemampuan serta kebutuhan para siswa. 

Hal tersebut tertuang dalam keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan dalam Kondisi Khusus. Situasi darurat seperti ini tentu saja kita tidak bisa memaksakan seperti dalam kondisi normal. 

Penyederhaan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Maka, yang menjadi poin penting dalam kurikulum darurat ini adalah guru tidak perlu memaksakan ketuntasan kurikulum, melainkan memilih pembelajaran yang esensial. 

Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran para peserta didik. 

Satuan pendidikan pada kondisi khusus tersebut juga dapat dilaksanakan agar tetap mengacu pada kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. 

Kurikulum sederhana ini berlaku bagi sekolah yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh ataupun tatap muka, sehingga guru tidak perlu merasa berat dan harus sempurna dalam menggunakan kurikulum apa adanya, pilihannya memakai kurikulum sederhana atau kurikulum yang dipakai sekolah. 

Materi dibuat dalam bentuk modul sehingga lebih mudah untuk dipahami serta diikuti baik untuk guru, siswa maupun orangtua. Modul untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) sejatinya dapat membantu proses belajar dari rumah dengan mencakup uraian pembelajaran berbasis aktivitas guru, orangtua dan peserta didik. 

Dalam hal ini, siswa juga tidak dibebani untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan dan pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran. Modul belajar PAUD dijalankan dengan prinsip “Bermain adalah Belajar”. 

Hal tersebut yang kerapkali kurang dapat dipahami oleh beberapa pihak satuan pendidikan. Semestinya ini dapat dielaborasi berbagai macam hal yang bisa digunakan sebagai media pembelajaran anak tapi anak juga bisa inklusif, mindful, meaningful bahkan joyful (Mu’ti, 2020). 

Namun anak juga tidak kehilangan dari substansi pembelajaran yang disampaikan. Proses pembelajaran terjadi ketika anak sedang bermain dan melakukan aktivitas sehari-hari, yang tanpa disadari bahwa siswa tersebut juga tengah belajar dalam ruang bermain itu. 

Optimalisasi Kurikulum Darurat

Penulis sendiri masih melihat adanya satuan pendidikan yang masih memaksakan kepada peserta didik yang terlalu dibebankan dengan hafalan-hafalan surat, ayat dan hadis. Sementara disisi lain, kondisi peserta didik juga tidak bisa disamaratakan dari berbagai macam hal. 

Hal ini yang menjadi problem serius di lapangan. Psikis anak dan orangtua menjadi terganggu dengan terlalu memadatkan kurikulum secara ideal. Situasi seperti ini tentu saja bukan menjadi baik. Bahkan bisa mengancam psikis anak-anak dengan terlalu banyak dibebani tugas. 

Alih-alih memutus mata rantai penyebaran virus, yang terjadi justru dapat memberikan kontribusi dalam memunculkan kluster baru dengan harus mencari media penunjang pembelajaran diluar rumah saat PJJ. 

Kadangkala, kita juga harus memikirkan bagaimana terhadap pemenuhan hak pendidikan anak bagi yang orangtuanya sama –sama bekerja setiap hari diluar rumah. 

Padahal, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sendiri telah menghimbau kepada guru untuk melakukan asesmen diagnostic pada siswa yang terdampak pandemic dan berpotensi tertinggal. 

Asesmen ini juga harus dilaksanakan secara berkala untuk mendiagnosis kondisi kognitif dan non kognitif siswa sebagai dampak pembelejaran jarak jauh. 
Asesmen non kognitif ditujukan untuk mengukur sejauh mana aspek psikologis dan kondisi emosional siswa, seperti kesejahteraan psikologi dan social emosi siswa, kesenangan siswa selama belajar dari rumah serta kondisi keluarga siswa. 

Sementara, asesmen kognitif ditujukan untuk menguji kemampuan dan capaian pembelajaran siswa. Hasil asesmen ini digunakan sebagai dasar pemilihan strategi pembelajaran dan pemberian remedial atau pelajaran tambahan untuk peserta didik yang paling tertinggal.  

Hal ini yang semestinya dapat dijalankan secara optimal oleh pihak sekolah dalam melakukan pendampingan peserta didik selama pembelajaran dimasa pandemi. 

Tidak perlu saling menyalahkan ketika didapati anak yang belum saja mengirimkan tugas melalui online. Barangkali memang ada hal yang tidak diketahui dari kondisi siswa. 

Keberhasilan pendidikan di masa pandemi tidak hanya menjadi tugas orangtua saja di rumah, tapi juga guru yang bisa terus meningkatkan kapasitas dan inovasi untuk pembelajaran interaktif dan sekolah dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan metode yang tepat. 

Pemerintah juga wajib untuk melakukan evaluasi dan relaksasi peraturan guru dalam mendukung kesuksesan pembelajaran. Pendidik tidak lagi diharuskan untuk memenuhi beban kerja selama 24 jam tatap muka dalam satu minggu, karena akan sangat menyulitkan pendidik. 

Justru esensi yang paling penting adalah bagaimana guru dapat fokus melakukan pembelajaran interaktif tanpa harus mengejar pemenuhan jam. Optimalisasi kurikulum darurat ini pada akhirnya menjadi kunci tercapainya pembelajaran sesuai harapan dan menjawab persoalan pendidikan yang sedang terjadi. 

Kesehatan fisik dan psikis peserta didik, orangtua dan pendidik jauh lebih diutamakan daripada harus mengejar kesempurnaan dalam pembelajaran.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Democracy dan Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Pemerhati Pendidikan.