RMOLJabar. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise akan memastikan keamanan dan kenyamanan korban CA (11 tahun), pasca mengalami kekerasan oleh ibu asuhnya.

“Ananda CA harus mendapatkan perlindungan dari tindakan kekerasan yang selama ini dialaminya. Pelaku harus segera ditemukan dan diproses secara hukum,” Demikian dikatakan Yohana, dalam keterangan yang diterima RMOLJabar, Jum’at (31/5).

“Kita semua perlu bekerjasama untuk kembali memulihkan kondisi ananda CA, baik fisik maupun psikologisnya. Kita harus pastikan ananda CA dapat bermain dan belajar layaknya anak-anak yang lain,” sambungnya.

Diketahui sebelumnya CA (11 tahun) terbaring di RS Fatmawati Jakarta karena menderita luka bakar akibat disiram air panas oleh ibu asuhnya. Nasib nahas korban ditengarai karena kekesalan sang ibu kepada korban yang membuat adiknya menangis.

Tak hanya luka bakar, korban juga menderita luka lebam akibat pukulan dan tamparan dari ayah asuhnya.

Menanggapi hal tersebut, pada 29 Mei 2019, Menteri PPP, Yohana Yembise menurunkan tim untuk meninjau secara langsung proses pendampingan dan penyelesaian kasus yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat serta memastikan agar anak terlindungi dan tetap terpenuhi hak-haknya.

Menurut informasi Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Depok, Fitrianingsih, sebelum diasuh oleh pelaku, korban merupakan anak telantar yang menghabiskan waktunya di jalan. Kekerasan yang dialami korban diketahui bukan kali pertama ia dapatkan. Sejak tahun 2018, pertama kali korban diasuh oleh pasangan K dan A, korban telah mendapatkan kekerasan fisik dari orangtua asuhnya.

“Korban diminta melakukan semua pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci hingga menjaga adiknya yang masih berusia 1 tahun. Kedua orang tua asuhnya tidak segan memukul atau menamparnya saat korban melakukan kesalahan dan menolak mengerjakan perintah,” kata Fitrianingsih

Hingga puncaknya terjadi peristiwa penyiraman air panas yang mengakibatkan 40% dari tubuh korban menderita luka bakar. Luka yang diderita korban memicu kecurigaan dan mendorong warga melaporkan kasus ini ke pengurus RW hingga pihak kepolisian. Saat ini kedua orang tua korban belum bisa ditemukan dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Kota Depok.

Rabu sore (29/5), korban diizinkan kembali ke rumah oleh pihak Rumah Sakit. Valentina menuturkan bahwa proses pemulangan dikawal oleh P2TP2A dan Dinas PPPA.[son]

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here