Ilustrasi/Net

rmoljabar Kriteria dari pasangan calon (Paslon) secara ideal untuk dapat meraih kemenangan di sebuah ajang Pilkada hanya ada dua hal sebagai prasyarat mutlaknya.

Pertama modal sosial dan kedua modal kapital. Modal sosial tanpa modal kapital akan lumpuh. Begitu pula modal kapital tanpa modal sosial akan jalan di tempat.

Begitu kata Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik sekaligus Sesepuh di Kabupaten Bandung, Tavinur S Ramadhani dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/8).

Secara konsep, lanjut Tavinur, modal sosial atau popularitas memerlukan proses yang panjang untuk membangunnya tidak bisa dilakukan secara ujug-ujug (mendadak).

“Publik akan mudah mengenal seseorang karena telah berkecimpung lama dalam proses kontak sosial. Dan ini menjadi modal untuk mencapai (Pilkada) itu,” katanya.

Seorang calon kepala daerah atau calon wakil kepala daerah yang relatif telah memiliki modal sosial, lanjut Tavinur, lebih mudah dalam membangun imej (citra) nya.

“Kendati modal kapital (ekonomi) dapat mengangkat imej lebih tinggi, namun diperlukan kapital besar dan berlipat-lipat makanya perlu juga modal sosial,” bebernya.

Namun sayang, kata Tavinur, memasuki penjaringan calon di internal partai termasuk di Kabupaten Bandung modal sosial baiknya dikawinkan dengan modal kapital diabaikan.

“Ukuran utamanya tetap saja modal kapital. Persoalan, bagaimana membangun imej sang calon, itu masalah belakangan. Imej calon dapat dibangun dengan modal kapital sebagai kayu bakarnya,” pungkas Tavinur.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here