Anggota DPRD Kota Bekasi, Ahmad Ushtuchri/RMOLJabar

rmoljabar Anggota Komisi 1 DPRD Kota Bekasi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ahmad Ushtuchri mengomentari rencana penerapan tatanan baru atau New Normal di Kota Bekasi.

Bagi dunia pendidikan seperti pesantren, ia menilai selama ini belum ada simulasi protokol Covid-19 yang disiapkan oleh pemerintah kota Bekasi.

“Wacana New Normal harus berdasarkan data yang valid dalam arti pelonggaran PSBB. kalau new normal diartikan sebagai pakai masker, cuci tangan, di rumah saja, jaga jarak, saya kira kita semua sepakat. Tapi kalau pelonggaran dan penghapusan PSBB saya kira harus dengan data valid,” ujarnya, Rabu (27/5).

Apalagi, kata Ushtuchri, tidak semua sektor disiapkan, baru tempat ibadah, mall, kantor dan pasar yang disimulasi. Tapi tidak ada simulasi untuk sekolah terutama pesantren.

“Puluhan ribu bahkan jutaan santri se-Indonesia, ada ratusan pesantren, kita tidak pernah mendengar adanya simulasi protokol Covid-19 yang dipersiapkan oleh pemda masing-masing di pesantren, juga supporting. Jangan lupa pendidikan ini juga kena dampak,” sambungnya.

Ia masih mempertanyakan bentuk bantuan pemerintah terhadap lembaga pendidikan negeri dan swasta misalnya dalam hal ini pesantren. Karena bukan hanya tentang belajar tapi juga hidup para santri terkena dampak. Orangtua mereka juga terkena dampaknya hingga tidak bisa membayar akomodasi.

“Nah ini belum ada perhatian khusus pemerintah daerah soal pesantren. Dan ini menjadi perhatian khusus karena kita tahu lembaga pendidikan ini jadi bagian penting dari perjuangan bangsa dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here