Situasi objek wisata De'Ranch yang ditutup sementara/RMOLJabar

rmoljabar Pesatnya penyebaran infeksi Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia dan berbagai negara lainnya mengakibatkan sejumlah objek wisata di Kabupaten Bandung Barat (KBB) memilih menutup objek wisatanya untuk sementara waktu.

Wabah virus corona yang terjadi saat ini, disebut-sebut lebih parah jika dibandingkan kondisi pada saat krisis moneter yang melanda Indonesia di tahun 1997 silam.

Bahkan, penutupan objek wisata di KBB secara massal ini menjadi peristiwa pertama yang dialami para pengusaha industri wisata di KBB. Seperti yang dialami PT Perisai Group selaku pemilik empat objek wisata di kawasan wisata Lembang.

CEO PT Perisai Group Perry Tristianto mengatakan, pada hari ini, dirinya telah menutup sementara keempat objek wisata miliknya seperti De’Ranch, Floating Market, Farm House, termasuk objek wisata yang belakangan ini menjadi tujuan destinasi wisata The Great Asia-Afrika (TGAA).

Penutupan sementara tersebut, dilakukan sebagai upaya dalam menekan penyebaran wabah virus corona.

“Kita menghindari juga efek dari virus corona ini,” ucap Perry saat ditemui, Kamis (19/2).

Dari 900 baik karyawan tetap maupun tidak tetap, terangnya, kebanyakan di antaranya di rumahkan untuk sementara waktu. Sementara sisanya, masih tetap bekerja untuk menjaga kebersihan di lokasi wisata tersebut.

“Karyawan tetap, masih ada yang bekerja tapi tidak membuat kerumunan. Tetap yang ada yang kerja yang bersih-bersih karena yang utama kebersihannya,” jelasnya.

Diakui dia, inisiatif penutupan kunjungan ke tempat wisatanya bukan karena ada imbauan pemerintah melainkan pengelola sangat memperhatikan keselamatan dan kesehatan para pekerja termasuk pengunjung wisata supaya terhindar dari infeksi virus corona yang sampai saat ini masih masif terjadi termasuk di berbagai negara lainnya.

“Karyawan juga sebetulnya dalam hatinya mungkin pengen tutup juga karena takut juga dengan pendatang kalau terlalu banyak pendatang mereka juga gak nyaman. Jadi masalahnya bukan soal ada edaran atau gak ada edaran. Gak ada edaran juga akan ditutup karena karyawan juga kurang nyaman bekerja,” paparnya.

Disampaikan Perry, dengan penutupan keempat objek wisatanya pendapatan dipastikan turun secara drastis hingga tidak ada sama sekali. Namun pihaknya enggan mempermasalahkan hal tersebut karena penutupan hanya bersifat sementara.

“Gak ada masalah menurut saya soal (tidak adanya pendapatan) itu mah. Tapi kalau terlalu lama virus corona ini jadi masalah juga. 14 hari gak ada masalah,” tegasnya.

Sepanjang sejarahnya berkarir di dunia bisnis, baru kali ini dirinya menutup sementara usahanya dikarenakan wabah virus corona ini lebih mengkhawatirkan kondisinya ketimbang situasi saat krisis moneter yang terjadi 23 tahun silam.

“Lebih parah ini karena krisis moneter itu bisa berinovasi lagi. Ini lain. Tapi krisis ini, ini tanda tanya. Besok jadi apa, lusa jadi apa, gak bisa diprediksi,” ungkapnya.

Kendati usahanya ditutup sementara, dia menuturkan, gaji semua karyawannya akan tetap diperhatikan meskipun jumlahnya tidak seperti biasanya.

“Hak-hak pegawai tetap kita berikan tapi mungkin gak penuh. Ada uang transport dan uang makan yang mungkin dipangkas. Mungkin hanya gajih pokoknya saja kalau cukup tapi kalau gak cukup kita tambahin dengan lainnya,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here