Penghapusan Jati Diri 'Sunda Expire'

Penghapusan Jati Diri 'Sunda Expire'

Upaya penggalian jati diri bangsa tentunya tak mungkin lepas untuk bersentuhan terhadap sejarah. Saat penggalian sejarah, kita juga tidak mungkin melepaskan diri terhadap rasa ingin mendalami pengetahuan pada nilai-nilai budaya 'asli' Bangsa Indonesia.


 

Upaya-upaya tersebut pun sudah dilakukan dari dulu oléh orang bijak, negara, kelompok budaya, lembaga pendidikan, kelompok sejarah, kelompok media, komunitas-komunitas, dan bahkan hampir semua orang saat telah sampai pada proses pendewasaannya dalam berpikir. Mereka tentu ingin mengetahui asal-usul atau Jati Dirinya dan ini sudah terjadi selama puluhan tahun (Barang siapa yang telah mengenal dirinya tentu akan mengenal Tuhannya).

Semua upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak kini tumpur sudah karena satu kejadian kecil yang bisa membuat alasan kita untuk merasa ‘malu’ atas perbuatan sekelompok orang yang sedang dimainkan oleh ‘Dalang’ tapi dampaknya sangat luas terhadap pergerakan Budaya Indonesia, khususnya Budaya Sunda itu sendiri.

Mengenai Sunda Empire, mereka ini bergerak berdasarkan Sunda etnis, Sunda geografis,  Sunda filosofis atau Sunda historis? yang paling mungkin adalah Sunda historis karena kehebatan Sejarah, Dongeng, Dangiang, Mitos dan peninggalan para  leluhur ‘Bangsa’ Sunda. Maka dari itu mereka tidak bisa seenaknya mencatut nama Sunda.

Karena istilah Sunda ini sangat ‘sexy’ untuk dimainkan, saya cenderung berpikiran memang ini adalah salah satu upaya untuk menjauhkan kita kepada Identitas Budaya kita yang sebenarnya, atau dengan kata lain ingin menjauhkan kita dengan leluhur dan sejarahnya atau lebih tepatnya lagi, ini adalah salah satu upaya untuk mencabut Jati Diri kita yang sedang kita bangun dan cari kembali dengan susah payah.

Bukti yang paling sederhana mengenai pernyataan di atas adalah “para ilmuwan, negarawan Indonesia tidak berani (tidak mampu) mempergunakan bahasa Indonesia sebagai “bahasa ilmiah, bahasa kenegaraan” di dalam negerinya sendiri.” Hal ini menyebabkan telinga kita jadi terbiasa mendengar istilah asing dan lidah kita pun menjadi lancar mengolah gado-gado bahasa, hingga kita lupa bahwa “bahasa menunjukan bangsa” dan kecerdasan sebuah bangsa berawal dan ditentukan dari “bahasa”.

Harimau di dalam Bahasa ilmiahnya adalah Panthera tigris sondaica, namun pada saat kita alih bahasakan ke Bahasa Indonesia menjadi ‘Harimau Jawa’, begitu pula dengan Rhinoceros sondaicus yang kita mengenalnya dengan sebutan ‘Badak Jawa’. Banyak lagi hal serupa di dalam berbagai kasus untuk berupaya menghilangkan kata 'Sunda’, ataukah orang Sunda itu yang mendiami pulau Jawa ? atau Jawa itu adalah Sunda itu sendiri ? Teuing atuh.

Pada saat orang Batak ditanya dari pulau mana mereka berasal, dengan bangga akan menunjukan pulaunya, yaitu Sumatra, begitu pula dengan orang Bugis, Ambon, Manado, Irian, Asmat, Bali, Dayak, Sasak, bahkan orang Jawa sekalipun akan dapat menunjukan pulau dari mana mereka berasal. Tapi sampai saat ini saya belum menemukan ada sebuah pulau bernama Sunda (timana atuh Aing teh?).

Saya menulis ini karena pada hari Rabu tanggal 29 Januari 2020, anak saya Garviano Schrader Sanggabuana Ranggamalela 7 tahun, pergi ke sekolah jam 6.30 WIB dengan biasanya mengenakan Pakaian Adat Sunda (Pangsi) karena program pemerintah ‘Rebo Nyunda’ yang sudah berjalan semenjak 6 November 2013. 

Betapa kagetnya ketika tiba-tiba dia pulang sambil berlari dan meminta untuk mengganti pakaiannya ke seragam sekolah SD biasa. Sebesar itukah pengaruh kejadian Sunda Empire, sehingga pihak sekolah atau pemerintah mengubah program entah ganti hari atau mungkin berubah dengan program lain atau ini juga bagian dari ‘Grand Design’ untuk Pencabutan Jati Diri tadi?

Kembali ke Sunda Empire, Sudahlah jangan sampai mereka menjadi besar karena selalu dibesar-besarkan oleh kita dan media, tentunya. Panggung kemarin sudah cukup untuk Sang ‘Dalang’ melakukan operasi tertutupnya. Paralun ka para pini sepuh.

Budi Setiawan (Budi Dalton)

Budayawan sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bandung