Pro Kontra Wacana Sekolah Tatap Muka

Pro Kontra Wacana Sekolah Tatap Muka

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menyelenggarakan sekolah tatap muka pada 18 Agustus ini. Wacana tersebut sontak menimbolkan pro dan kontra di tengah masyarakat.


Salah satunya Asep Sudrajat (40) warga Perum Puri Gandasari, Kelurahan Mangkurakyat, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut. Asep sendiri menyambut baik dengan adanya wacana tersebut.

"Saya secara pribadi menyembut baik dengan adanya wacara itu (sekolah tatap muka)" kata Asep, Kamis (13/8).

Asep mengatakan, selama ini anak-anak tidak memiliki jadwal yang tepat. Terutama ketika diberlangsungkannya sekolah daring.

Sekolah daring, katanya, sangatlah tidak efektif. "Kalau mau belajar ya harus di sekolah, kalau di rumah disiplinnya tidak terbentuk," ujarnya yang memiliki anak baru masuk sekolah di SMKN 1 Garut.

Ia juga menyadari apabila dengan adanya masa pandemi Covid-19 ini sangatlah rentan. Namun dengan berbagai protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah seharusnya sudah cukup.

Lain dengan Asep, Aep Saepudin (45) Warga Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, mengaku risau dengan adanya wacana sekolah tatap muka.

Apalagi, kata Aep, dengan adanya cluster baru Covid-19 di perkantoran dan sekolah membuatnya risau.

"Kalau tidak setuju sih tidak, karena anak-anak juga sudah jenuh di rumah terus, tapi kan sekarang fenomena klaster baru di perkantoran, apakah itu tidak dipertimbangkan?" tanyanya.

Ia juga berharap pemerintah bisa mempertimbangkan dengan baik sekolah tatap muka ini.