Reengineering Politik Dan Stagnasi Pertumbuhan Ekonomi

Reengineering Politik Dan Stagnasi Pertumbuhan Ekonomi

REENGINEERING politik dalam bentuk pemilihan secara langsung sejak tahun 2004 dan terakhir secara serentak tahun 2019 belum menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Belum menjadi faktor penentu perubahan kesejahteraan umum secara spektakuler.


 

Ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur menggunakan gini rasio, masih sebesar 0,380 per September 2019, yang lebih tinggi dibandingkan periode pemerintahan Orde Baru.

Kinerja kepemimpinan nasional dan daerah di bidang politik pun belum mampu menggerakkan perekonomian secara signifikan. Fenomena tersebut ditunjukkan oleh kinerja pertumbuhan ekonomi nasional terjebak dalam kondisi stagnasi sebesar 5,02 persen pada tahun 2019, dari harapan manuver “gimmick” perencanaan kebutuhan tumbuh meroket ke angka 7 persen per tahun.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga yang menyumbang permintaan agregat terbesar sebesar 56,62 persen dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi tumbuh 5,04 persen, sedangkan industri pengolahan yang menyumbang penawaran agregat sebesar 19,70 persen tumbuh 3,80 persen.

Yang dikerjakan oleh pemerintah adalah reengineering perekonomian menggunakan instrumentasi pembangunan infrastruktur besar-besaran berbasiskan utang luar negeri, ternyata belum dapat dijadikan pencapaian tujuan jangka pendek sebagai penggerak perekonomian.

Pembangunan infrastruktur tersebut berguna sebagai katalisator untuk memberlanjutkan kepemimpinan nasional, namun manfaat secara menyeluruh pada masyarakat banyak dalam negeri untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi pada sektor pengeluaran konsumsi masyarakat ataupun industri pengolahan tidak terlihat dalam jangka pendek.

Dampak jangka pendek reorientasi pembangunan buah dari reengineering politik terhadap bidang perekonomian adalah defisit transaksi berjalan naik, utang luar negeri naik, defisit pembiayaan pemerintah naik, tarif tol naik, subsidi turun, dan bantuan sosial turun.

Komoditas penggerak industri pengolahan dan penyumbang ekspor nonmigas Indonesia yang besar adalah minyak sawit dan produk logam dasar ternyata relatif mengalami stagnasi. Pertumbuhan ekonomi Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Rusia, China, dan Australia sedang turun, sekalipun pertumbuhan ekonomi Jepang dan Perancis meningkat pada triwulan IV tahun 2019 dibandingkan triwulan IV tahun 2018.

Kondisi perekonomian negara mitra dagang yang sedang menurun tersebut mendorong kinerja perekonomian industri pengolahan dalam negeri yang berorientasi ekspor tidak sebaik yang diharapkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia naik meroket.

Pemerintah tidak mampu mengubah kondisi tarikan permintaan pasar dari negara-negara mitra tujuan ekspor Indonesia untuk naik. Juga tidak mampu untuk menyerap lebih besar impor bahan baku dan bahan penolong dari negara-negara mitra asal impor Indonesia untuk dijadikan sebagai produk antara lebih banyak.

Pertumbuhan impor barang dan jasa Indonesia justru turun sebesar minus 7,69 persen tahun 2019. Kondisi perekonomian yang seperti ini menguatkan posisi Indonesia semakin sebagai follower dari negara mitra dagang.

Sugiyono Madelan Pengajar Universitas Mercu Buana dan peneliti Indef