Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil/RMOLJabar

rmoljabar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengintruksikan kepada seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMD) untuk proaktif menjemput kue ekonomi yang datang dari hasil investasi yang datang setiap tahunnya sebesar 57 Triliun.

BUMD harus menjadi mitra utama untuk investasi sendiri dan menjadi mitra utama investasi dari luar. Pasalnya, di masa pandemi Covid-19 ini BUMD harus cerdas melihat peluang ivestasi sebagai langkah strategis memulihkan kembali ekonomi yang terhantam oleh wabah.

“Jangan sampai BUMD di Jabar hanya sebagai pelaku ekonomi warung, akan tetapi harus melakukan ekonomi ketuk pintu, menjemput rezeki,” kata Ridwan Kamil, dalam Webinar yang digelar Pokja PWI Gedung Sate dengan tema ‘Siasat Recovery BUMD Jawa Barat di Era AKB, Senin (27/7).

Emil begitu sapaannya mencontohkan, PT Agro Jabar sebagai BUMD yang bergerak di bidang pertanian harus melihat peluang bisnis yang paling tangguh di masa Covid-19 hari ini. Agro Jabar diharapkan dapat menjadi pemain utama di seluruh lini pertanian.

“Tidak melulu sebagai hulunya, tapi juga sebagai hilirnya. Jadi harus terdepan yang kerjasama, dalam bisnis perkebunan, punya sistem yang tangguh dalam digital e-commerce nya. Sehingga ingat bisnis agrokultur ingat Agro Jabar lah ya,” tegas Emil, dalam keterangnnyta, Selasa (28/7).

Selanjutnya di bidang infrastruktur, PT Jasa Sarana dan anak perusahaannya harus selalu menjadi mitra utama dalam investasi. Semuanya harus menjemput bola jangan hanya menunggu saja di jama recovery ekonomi ini.

Begitupun dengan PT Jaswita Jabar, yang dahulu selalu diidentikan sebagai broker properti yang hanya menyewakan aset tapi tidak mengambil peran sebagai pelaku properti secara profesional.

“Padahal kalau disebut jasa pariwisata bukan melulu ngurusin bikin aset hotel, restoran, harusnya divisi baru ini bisa mengkonversi peluang yang bukan di lahannya saja. Bisa bekerjasama di pangandaran, bekerjasama membuat chain restoran, hotel, bikin event yang sifatnya semuanya ada provit dari pariwisata,” katanya.

“Karena pariwisata ini adalah bisnis kegembiraan, dimana orang berbahagia bergembira yaitu pariwisata. Ada wisata religius, ada wisata belanja, event, kuliner. Jadi kalau logikanya jaswita hanya ngurusin aset dan jadi bangunan itu konvensional menurut saya, sekarang harus multidimensi,” tambahnya.

Selain itu, Emil pun menyinggung PT BIJB yang bergerak di bidang penerbangan. Dirinya menginginkan BIJB melihat peluang yang lain, misalnya pembangunan kota baru atau aerocity di Kertajati Majalengka.

“Jadi ada koor bisnis yang harus diperbaiki dan ada peluang baru saat covid yang harus ditangkap,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here