Ridwan Saidi/Net

Pernyataan Ridwan Saidi yang menyebut Galuh mempunyai brutal mendapat tanggapan dari para tokoh budaya, akademisi, dan mahasiswa di Ciamis.

 

Tetapi Ridwan Saidi menjelaskan bahwa yang diucapkannya itu adalah benar, dari bahasa Armenia.

“Galuh itu dari bahasa Armenia itu artinya negatif lah. Tidak usah lagi saya katakan,” kata budayawan asal Betawi itu saat dihubungi wartawan, Kamis (13/2).

Dia juga menjelaskan bahwa kalau kata Sunda dari bahasa Armenia artinya cemerlang.

“Kalau Sunda (dalam bahasa Armenia) itu artinya cemerlang,” ucapnya.

Jadi, lanjut dia, tidak ada kerajaan yang artinya negatif. Seperti Galuh yang mempunyai arti brutal.

“Masa ada kerajaan artinya negatif,” lanjutnya.

Sebelumnya, Ridwan Saidi memaparkan pernyataannya tentang Galuh lewat akun Youtube Macan Idealis yang diunggah pada tanggal 12 Februari 2020.

Di dalam video itu, Ridwan Saidi diwawancarai oleh Vasco Ruseimy. Awalnya Ridwan Saidi mengungkapkan bahwa di Ciamis itu tidak ada kerajaan.

“Saya mohon maaf ya dengan saudara-saudara yang ada di Ciamis ya. Di Ciamis tuh tidak ada kerajaan,” ujar Ridwan Saidi di akun Youtube Macan Idealis.

Menurutnya indikator eksistensi kerajaan itu adalah indikator ekonomi. Sementara pelabuhan yang ada di wilayah selatan bukanlah pelabuhan niaga. Sama saja dengan pelabuhan yang ada di Teluk Bayur yang bukan pelabuhan niaga. Tetapi pelabuhan penumpang.

“Di Ciamis juga sama. Jadi bagaimana membiayai kerajaan,” ucapnya.

Lalu, lanjutnya, diceritakanlah ada kerajaan Sunda Galuh. Meskipun ada bangunan berundak tetapi bangunan berundak yang ditemukan di Ciamis ini mesti diteliti kembali, berawal dari tahun berapa dan bekas bangunan apa.

“Sunda Galuh saya kira agak keliru ya, karena Galuh artinya brutal,” ucap Babe Ridwan Saidi.

Kalimat itu lah yang membuat masyarakat Tatar Galuh ini kecewa dan merasa sedih bahkan tersinggung. Mereka meminta Ridwan Saidi untuk datang langsung ke Ciamis.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here