Situs batu Rompe/RMOLJabar

Sejarawan Ridwan Saidi sempat berpolemik dengan masyarakat Ciamis atas pernyataannya yang menyebut Galuh sebagai Brutal. Yang menurutnya, itu berdasarkan arti kata dari bahasa Armenia.

 

Bahkan Budayawan asal Betawi itu menegaskan bahwa tidak pernah ada kerajaan di Ciamis. Atau tidak pernah ada yang namanya Kerajaan Galuh. Lantaran Galuh mempunyai konotasi negatif.

Menurut Ridwan Saidi, lebih baik Pemerintah Kabupaten Ciamis fokus meneliti Batu Susun yang berada di Blok Rompe, Desa Sukaharja, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis. Masyarakat juga biasa menyebutnya Batu Rompe.

“Ciamis itu harusnya mendalami situs Rompe saja di Sukaraharja Lumbung, yang memang tidak dipahami semua dan juga tidak dipahami oleh seorang arkeolog,” ujar Ridwan Saidi saat dihubungi wartawan.

Dia menegaskan bahwa itu merupakan Monument Stone Pariangan yang sudah ada sejak abad ke-5. Menurutnya, Pariangan berarti pesawahan.

Dia menjelaskan, monumen itu menandakan bahwa pada abad ke-5 di Kabupaten Ciamis, khususnya di Lumbung sudah ada irigasi dan pesawahan yang sudah maju.

“Mending dalami itu daripada bicara kerajaan yang sulit dibuktikan. Situs itu bisa dikatakan stone monumen yang namanya Pariangan, peninggalan abad ke-5,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Ciamis Erwan Dermawan menegaskan bahwa Batu Susun Rompe itu adalah batu alam.

“Sudah diteliti ahli Geologi, mengatakan itu adalah batu yang bentukannya melalui proses alam. Batu itu jenisnya andesit yang mudah dibentuk,” kata Erwan, Sabtu (15/2).

Meski begitu, dia bersyukur Ciamis punya Batu Rompe yang bisa dimanfaatkan untuk destinasi wista yang baru.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here