Takmin mantan Ketua RW 03 pemilik kapal perahu di Desa Waruduwur/RMOLJabar

rmoljabar Besar pasak daripada tiang. Mungkin itulah ungkapan yang bisa menggambarkan nasib para nelayan di Pantai Utara (Pantura) Jawa, khususnya di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

 

Bagaimana tidak, mulai dari dampak pencemaran limbah industri batubara dan limbah cair sisa produksi industri kimia, hingga pendangkalan aliran sungai menjadi permasalahan pelik nelayan pesisir di Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon yang semakin merana.

Salah seorang pemilik kapal perahu, sekaligus mantan Ketua RW 03 Waruduwur, Takmin (65) mengatakan, nelayan di desanya saat ini semakin terlilit utang kepada juragan besar akibat hasil tangkapan yang terus menurun.

Menurutnya, tangkapan rajungan yang semakin sulit didapat dipesisir Cirebon terjadi sejak adanya pencemaran air laut dari batubara dan limbah cair industri lainnya yang dibuang ke aliran sungai Waruduwur serta lepas pantai Mundu Cirebon.

“Pendapatan kami tidak sebanding dengan ongkos melaut, kami para nelayan diisini semakin terjepit terlilit hutang pada juragan rajungan (BOS Besar) hingga ratusan juta rupiah,“ kata Takmim kepada Kantor Berita RMOLJabar, ditemui di kediamannya, Selasa (21/01).

Kondisi pendangkalan sungai yang biasa dijadikan tempat bersandar kapal nelayan/RMOLJabar

Penderitaan ratusan nelayan pesisir Waruduwur Mundu pun semakin diperparah dengan anjloknya harga rajungan di pasaran. Padahal, kata Takmin, hasil melaut terus menerus mengalami penurunan.

“Kami pergi melaut bersama beberapa nelayan dan selama empat hari mengarungi lautan itu menghabiskan modal tiga juta rupiah, sedangkan hasil tidak sebanding dengan pengeluaran, setiap melaut utang pun terus bertumpuk,” ujar kakek 7 cucu tersebut.

Di tempat terpisah, salah seorang nelayan sekaligus mantan Ketua RW 02 Desa Waruduwur, Turina (45) mengatakan, pendangkalan sungai Waruduwur yang menjadi tempat menambatkan ratusan kapal perahu nelayan telah terjadi bertahun-tahun.

“Sudah lebih dari tiga tahun sungai ini tidak dinormalisasi oleh instansi terkait, tentunya ini ikut menyulitkan para nelayan pesisir Waruduwur,” kata Turina.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here