Foto/BMKG
Berdasarkan data milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem diprediksi masih terjadi di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

 

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi. Hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas monsun Asia masih signifikan, gelombang atmosfer (MJO) masih aktif di wilayah Indonesia.

“Indikasi peningkatan cuaca ekstrim di wilayah Jawa Barat masih terpantau sepekan ke depan,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tony Agus Wijaya, Kamis (9/1).

Terdapat tekanan udara di wilayah Jawa Barat pada umumnya sekitar 1008-1010 hPa, serta adanya siklon tropis di samudera Hindia selatan NTT, dan bibit siklon di laut Arafura, yang membentuk daerah pertumbuhan awan hujan akibat pertemuan dan belokan angin yang melewati wilayah Jawa Barat, menyebabkan terjadinya peningkatan pasokan massa udara basah di wilayah Jawa Barat.

“Suhu muka laut umumnya berkisar 30,0°C-31,0°C di wilayah utara Jawa Barat. Di sekitar wilayah perairan yang mempunyai temperatur yang hangat, sehingga mampu menambah pasokan uap air yang cukup tinggi untuk mendukung pembentukan awan hujan di Jawa Barat,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here