Setelah UAE Dan Bahrain Normalisasi Hubungan Dengan Israel

Setelah UAE Dan Bahrain Normalisasi Hubungan Dengan Israel
Ilustrasi/Net

Di promotori Amerikas Serikat, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel. Kedua negara mini yang tak punya jejak sejarah pernah berperang dengan Israel ini mengikuti Mesir dan Yordania yang sudah lama mengakui Israel sebagai entitas negara.


Analis Militer dan Pertahanan Conniie Rahakundini Bakrie berpandangan, normalisasi hubungan antara dua negara tersebut dengan Israel bisa saja diikuti oleh negara lain tapi bisa juga tidak.

Kata Connie, normalisasi hubungan yang dilakukan UEA dan Bahrain bisa saja menimbulkan efek domino selama Israel menahan diri untuk tidak melakukan aneksasi wilayah negara lain.

“Kalau itu terjadi lagi bisa berantakan,” uajrnya dalam acara Webinar yang digelar Kantor Berita Politik RMOL, betema Normalisasi Arab-Israel Mungkinkah?

Masih kata Connie, Jika Israel tetap memperluas wilayahnya maka akan memancing reaksi keras dari negara-negara Arab di sekitarnya.

“ Arab akan menilai Israel hanya pura-pura ingin berdamai,” katanya.

Dalam pandangan Connie, selain lobi Amerika, normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab didorong oleh motif lain. “Membuka hubungan dengan Israel bisa memberikan keuntungan perdagangan, kerjasama teknologi, dan penanganan Covid-19,” sebutnya.

Ketika ditanya soal peluang Arab Saudi mengikuti jejak UEA dan Bahrain, Connie menilai hal itu baru mungkin terjadi jika Raja Salaman lengser dan dikantikan oleh anaknya, Muhammad Bin Salaman. Ia melihat pemimpin negara-negara arab kedepan akan lebih pragmatis dan memiliki pendekatan berbeda dengan pemimpin saat ini.

Disisi lain Connie melihat selain Palestina, Suriah dan Iran akan jadi negara yang paling keras menentang normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel.