Ilustrasi/Net

INNAMA bu’itstu liutammima makaarimal akhlaq, (hanyalah) sesungguhnya engkau (Muhammad saw) diutus untuk menyempurnakan akhlak. Itulah pernyataan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits.

Pemaklumatan itu bisa bermakna penekanan bahwa setiap apa pun anjuran atau apa saja yang diminta beliau untuk dihindari, semuanya demi menghasilkan kemuliaan akhlak.

Akhlak mulia adalah akhlak yang direstui al-Quran dan al-Hadits. Akhlak yang mulia adalah seluruh sikap dan perilaku yang diridlai Tuhan, dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Paling tidak Rasulullah tidak melarang terhadap apa yang dilakukan oleh para sahabat ketika beliau mengetahui sikap atau perbuatan yang dilakukan.

Sungguh Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi, hai orang-orang beriman bershalawatlah kepadanya… (QS 33:56). Demikian Allah “mengajak” orang-orang beriman untuk senantiasa ber-shalawat kepada Rasululllah saw. Allah dan para malaikat selalu ber-shalawat (Allah selalu mencurahkan RahmatNya melalui para malaikatNya) kepada Nabi, maka raihlah rahmat itu melalui shalawat kepada Nabi.

Rahmat Allah yang tertinggi adalah ridlo-Nya, puncaknya ialah mampu ‘melihat’ wajah Allah dari tempat mulia bernama surga. Orang-orang surgawi yang selalu penuh dengan rahmat Allah, di dunia ini hidupnya selalu tenang, senang, dan bahagia.

Kebahagiaan yang bersemayam di dalam jiwanya, terpancar melalui wajah dan seluruh aktivitasnya. Aktivitasnya selalu bermanfaat; senang berbagi harta, suka memaafkan, gemar menolong, hobi memohonkan ampunan bagi orang lain, penuh hasrat mendoakan kesempurnaan bagi orang lain. Semuanya dilakukan hanya mengharap ridlo Tuhan.

Hidup demikian adalah hidup sebagai penebar rahmat bagi semesta. Dan hanya untuk inilah Rasulullah saw diutus. Dan tidaklah Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi semesta (QS 21:107).

Orang-orang yang meneladani Rasulullah seperti itu, bersumpah serius melalui kalimat syahadat, wa asyhadu anna Muhammad ar-Rasulullah, dan saya bersumpah bahwa saya akan meneladani Rasulullah saw menjadi rahmat, menebar kasih sayang sejati kepada semesta.

Rahmat yang ditebarkan hanya karena Allah semata, tidak karena satu pun selainNya, Asyhadu an laa ilaaha illaa Allah, Saya bersumpah bahwa yang Maha Ada hanyalah Allah, dan seluruh bakti saya hanya kepadaNya semata.

Shalawat, seakar dengan kata shilah, washilah, sambung. Sehingga kata shalawat, bisa bermakna selalu sambung, terkoneksi dengan Rasulullah saw. Selalu terkoneksi bermakna bahwa setiap apa pun yang dilakukan seseorang selalu bisa dilandaskan pada apa yang disetujui Rasulullah SAW.

Sikap atau perbuatan itu bisa berbentuk ibadah utama atau seluruh kegiatan hidup sehari-hari. Bukankah seluruh aktifitas kita pada hakikatnya adalah ibadah? Dan tidaklah jin dan manusia itu diciptakan kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu (QS 51:56).

Orang-orang yang selalu ber-shalawat kepada Rasulullah adalah orang yang selalu menyesuaikan dengan sikap dan perilaku yang dicontohkan beliau atau apa yang beliau relakan untuk melakukannya atau menghindarinya.

Shalawat yang demikian adalah shalawat yang benar, yaitu yang mampu membawa sikap perilaku siapa pun yang ber-shalawat untuk selalu menyesuaikan diri dengan Rasulullah SAW.

Shalawat dan Koneksi

Dalam kehidupan sehari-hari, bisa jadi orang keliru menekan nomor telpon, dipastikan tidak bisa tersambung. Tidak konek dengan nomor yang dimaksud. Dalam ilmu fisika gelombang kejadian ini dikarenakan gelombang si penelpon tidak sesuai dengan gelombang yang ditelpon. Dalam hal telpon kesesuaian gelombang ditunjukkan melalui nomornya.

Di dalam praktek kehidupan yang dimaksud gelombang adalah sikap dan perilaku. Shalawat kepada Rasulullah saw bermakna doa, permohonan kepada Allah agar sikap dan perilaku orang tersebut semakin sesuai dengan sikap dan perilaku Rasulullah SAW, ialah perilaku rahmat bagi semesta.

Perilaku rahmat sebagaimana perilaku Rasulullah ini berdampak tenang dan aman bagi tubuh. Situasi ini mengindikasikan sempurnanya imunitas tubuh seseorang. Imunitas sempurna merupakan kebutuhan utama untuk menghadang apa pun yang akan menginfeksi tubuh, termasuk Covid-19. Mari kita selalu ber-shalawat kepada Rasulullah saw menyambut era new normal. Sikap dan perilaku rahmat sangat dibutuhkan untuk bisa menyambut kehidupan new normal dengan sehat dan aman.

Abdurachman
Gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here