Dedi Taufik/RMOLJabar

rmoljabar Status siaga satu virus corona (Covid-19) yang ditetapkan Gubernur Ridwan Kamil rupanya berimbas pada menurunnya kunjungan wisata di berbagai daerah di Jawa Barat. Adanya ketidakstabilan tersebut, Pemprov Jabar saat ini tengah mencari strategi supaya aktivitas wisata kembali normal.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, Dedi Taufik saat menghadiri Musrenbang RKPD 2021 Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (11/3).

Berdasarkan data yang dikumpulkan Disparbud Jabar, ujar Dedi, aktivitas kunjungan wisata mengalami penurunan sebanyak 5 persen. Kawasan wisata yang paling terdampak berada di daerah metropolitan di Jawa Barat.

“Ya, kurang lebih dari okupansi lima persen. Ada penurunan terutama di kawasan metropolitan Bandung, kemudian juga ada di Bekasi dan Karawang,” beber Dedi.

Kendati demikian, Dedi menyebut penurunan kunjungan wisata tidak hanya terjadi di Jawa Barat, melainkan juga di beberapa daerah lainnya di Indonesia bahkan di berbagai negara. Pemerintah mengambil langkah pembatasan kunjungan wisatawan mancanegara sebagai upaya antisipasi sebaran virus Corona yang kini tengah menjadi perhatian dunia.

“Memang ada beberapa negara yang keluar-masuknya dilarang seperti Itali, Saudi Arabia juga, apalagi Cina,” jelasnya.

Dengan adanya penurunan kunjungan wisata di Jawa Barat, dia menerangkan, Pemprov Jabar kini tengah merancang strategi untuk menstabilkan aktivitas wisata. Salah satunya meminta pengelola wisata menghadirkan hiburan bersifat baru yang dapat menjadi daya tarik, khususnya bagi wisatawan domestik.

“Kemudian juga membuat beberapa atraksi atau festival yang ada di kabupaten/kota supaya menggeliatkan keberminatan pengunjung,” ungkapnya.

Dijelaskan Dedi, imbauan Gubernur kepada pihak manapun untuk bisa menunda sejumlah kegiatan yang bersifat massal atau mendatangkan banyak orang bukan dimaksudkan untuk menunda acara, melainkan supaya pengelola wisata memiliki langkah waspada.

Maka itu, pihaknya mengimbau, pengelola wisata menyiapkan alat pengukur suhu tubuh (thermal scanner) untuk meminimalisir sebaran virus Corona di sektor pariwisata. “Nah, terutama dari Dinkes Daerah harus punya alat pendeteksi suhu tubuh,” pungkasnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here