Ilustrasi radikalisme/net

Isu radikalisme diprediksi masih menjadi ancaman di tahun 2020, termasuk di Kota Bandung. Meski narasi radikalisme masih menjadi perdebatan, faktanya paham tersebut tumbuh dan memunculkan polarisasi yang memecah belah masyarakat.

 

Kasubid Kewaspadaan dan Deteksi Dini Kesbangpol Kota Bandung, Ridwan Herianto menuturkan, lokasi yang bersinggungan dengan ibukota membuat Bandung tidak bisa lepas dari isu nasional. Hal tersebut juga bisa menimbulkan potensi radikalisme.

“Tren 2020 ini masih sama seperti 2019. Di Kota Bandung banyak potensinya, kampus saja banyak sebab spot-spot di kampus ini menjadi sasaran karena mereka berkembang di lingkungan itu (kampus),” kata Ridwan, Senin (27/01).

“Nah bagaimana caranya kita mengenal gerakan mereka, intinya ketika sudah mulai menentang pemerintah dan anarkis, nah itu. Menyampaikan aspirasi boleh, demo boleh, tapi tertib, ada audiensi,” imbuhnya.

Senada, Gubernur Federasi Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Pasundan, Raja Faisal mengungkapkan, ada 19 kejadian aksi teror di tahun 2018 yang menjadi perhatian publik. Tak hanya itu, di tahun 2019 pun terjadi 8 aksi tindakan terorisme.

“Dan gerakan radikalisme masih menjadi ancaman di 2020,” ujar Faisal.

Menurutnya, penyebaran paham radikalisme melalui media sosial lebih masif dihembuskan. Konten-konten radikal yang teridentifikasi dan dilakukan takedown Kemenkominfo, meningkat dari 10.449 konten pada tahun 2018, menjadi 11.800 konten di tahun 2019.

Faisal menilai, media sosial yang notabene mudah diakses saat ini dimanfaatkan radikalis untuk menyebarkan pesan tanpa batas dan partisipatif. Pesan-pesan radikal dikonstruksi, sehingga mendoktrin melalui penggiringan yang mampu menggiring opini masyarakat.

Hal tersebut kata dia, dipengaruhi sejumlah faktor, di iantaranya, komunikasi di media sosial telah mempercepat penyebaran paham radikal meningkat dan menjadi racun yang sulit mendapatkan penawar.

“Percepatan paham radikalisme juga disebabkan oleh akselerasi pengguna internet yang meningkat mencapai 150 juta dari populasi Indonesia sebesar 268 juta,” terangnya.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here