Neni Nurhayati/RMOLJabar

MESKI berada di zona hijau Covid-19, nampaknya sekolah tidak perlu untuk tergesa-gesa melakukan pembelajaran tatap muka di Bulan Juli mendatang. Sebab, segala hal persiapan matang harus betul-betul dilaksanakan guna memastikan keamanan warga sekolah dari penularan virus mematikan itu.

Dalam panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran baru disebutkan bahwa prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi covid adalah kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat menjadi prioritas utama.

Berdasarkan keputusan pemerintah melalui surat keputusan bersama empat menteri, sekolah dapat dibuka dengan memenuhi sejumlah syarat, yakni pemerintah daerah atau kanwil/kantor telah memberikan izin, mmenuhi protokol kesehatan, izin dari orangtua siswa, satuan pendidikan penuhi semua daftar periksa dan siap pembelajaran tatap muka.

Apabila salah satu persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka peserta didik tetap melaksanakan pembelajaran daring secara penuh. Sementara itu, bagi daerah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan belajar dari rumah (study from home).

Namun faktanya di lapangan terhadap pemahaman tersebut masih berbeda-beda. Semisal pada pemahaman zona hijau. Merujuk pada data.covid19.go.id, per 15 Juni 2020 sejumlah 94% peserta didik berada di zona kuning, oranye, dan merah (dalam 429 Kabupaten/Kota), 6% peserta didik lainnya ada dalam di zona hijau (85 Kabupaten/ Kota). Di daerah, pemahaman basis zona hijau covid-19 adalah kecamatan. Padahal, zona hijau itu basisnya adalah kabupaten/kota, bukan kecamatan.

Beberapa daerah ada yang telah melakukan simulasi belajar mengajar tatap muka seperti di Kabupaten Tegal dengan melakukan perketatan protokol kesehatan di 40 sekolah di kecamatan yang tidak termasuk zona merah. Apabila memang hasil simulasi ini efektif, maka akan diadaptasi untuk panduan normal baru di tahun ajaran baru mendatang juga dapat dijadikan rujukan daerah yang lain.

Hingga kini, berdasarkan data gugus tugas penanganan covid-19, belum ada kabupaten/kota di Pulau Jawa, Madura, Bali serta di Nusa Tenggara Barat yang masuk kategori zona hijau.
Kemendikbud mewajibkan para kepala sekolah untuk terlebih dahulu mengisi formulir daftar kesiapan proses pembelajaran pada masa pandemi guna memastikan persiapan sekolah melaksanakan protokol kesehatan.

Pihak sekolah harus memastikan tentang ketersediaan sarana kesehatan seperti sanitasi dan kebersihan toilet bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer) serta disinfektan.

Selain itu, sekolah harus mampu mengakses fasilitas layanan kesehatan (puskesmas, klinik, rumah sakit atau yang lainnya), memiliki thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) dan melakukan pemetaan warga satuan pendidikan yang tidak boleh melakukan kegiatan di satuan pendidikan.

Mengatasi Kekhawatiran
Sebagai orangtua siswa tentu saja ada kekhawatiran ketika ada warga sekolah dari zona kuning, orange dan merah atau memiliki riwayat kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif covid. Dalam pemetaan warga satuan pendidikan, apabila ditemukan kasus tersebut, maka tidak boleh untuk melakukan kegiatan di satuan pendidikan.

Mau tidak mau, yang bersangkutan harus isolasi dulu secara mandiri selama 14 hari, karena memastikan warga sekolah sehat dan bisa beradaptasi dengan keadaan baru (new normal) adalah faktor utama.
Selain sarana dan pra sarana kebersihan, dibutuhkan standard operasional prosedur (SOP) yang berbasis pada protokol kesehatan diantaranya mengatur bagaimana interaksi di sekolah.

Sekolah juga mesti memastikan SOP tersebut dapat disosialisasikan dan yang terpenting adalah diterapkan oleh segenap warga sekolah. Disiplin menjadi kunci utama atasi covid-19, tentu saja dengan kerjasama dan gotong royong semua pihak. Terutama, SOP ini benar-benar harus dipahami oleh para orangtua dan dapat menjelaskan secara baik kepada anaknya di rumah.

Mungkin kalau untuk siswa SMP dan SMA apalagi perguruan tinggi dapat di berikan pemahaman secara cepat. Tapi, untuk siswa SD dan TK, ini butuh waktu yang cukup lama terlebih kebiasaan dalam pemakaian masker dan sering mencuci tangan.

Kerap kali anak-anak ini merasa pengap ketika harus memakai makser dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ketika menemukan masker temannya yang lebih lucu, boleh jadi saling tukar menukar tanpa sepengetahuan para orang tua dan guru. Hal-hal seperti ini yang semestinya dapat dihindari. Alih-alih memutus mata rantai penularan, yang terjadi justru sekolah menjadi cluster baru penularan covid-19.

Persiapan Matang Buka Sekolah
Satgas Covid-19 haruslah benar- benar memastikan bahwa sekolah telah memenuhi syarat untuk melakukan pembukaan sekolah mulai dari memantau suhu tubuh ketika masuk sekolah hingga mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan.

Hal ini tidak dilakukan hanya sebatas ceremonial belaka untuk menggugurkan tugas tapi satgas harus memikirkan bahwa kesehatan warga sekolah haruslah diatas segala galanya. Bagi sejumlah kabupaten/kota yang saat ini ada dalam zona hijau, maka ada baiknya tatkala pembukaan sekolah tidak langsung permanen, tetapi menyesuaikan perkembangan kasus covid-19.

Pemerintah daerah juga harus melakukan kajian mendalam seperti persiapan ruang kelas dan risiko apabila pembelajaran tatap muka dilakukan selama covid-19. Jangan sampai pembukaan sekolah mengorbankan kesehatan anak dan masa depan pendidikan.

Oleh : Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Pemerhati Pendidikan

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here