Ilustrasi/Net
Kasus pelecehan seksual kembali mencoreng nama baik kampus. Kali ini terjadi di Telkom University, Bandung, Jawa Barat. Atas kejadian tersebut, pihak Telkom University angkat suara yang ditulis melalui surat.

 

Dalam surat bernomor 137/SKR4/SUV/2019, terdiri dari delapan poin dan ditandatangani langsung Direktur Sekretariat Telkom University, Lia Yuldinawati.

Menanggapi surat tersebut, Anggota Komunitas United Voice, Bahrul Bangsawan, membenarkan bahwa kampus baru mengetahui kejadian pada Sabtu (28/12).

Dirinya juga membenarkan United Voice tidak berada dalam naungan Telkom University. Selain itu, pihaknya membenarkan tidak melaporkan adanya dugaan pelecehan seksual pada pihak fakultas maupun universitas.

Bahrul menilai, narasi surat pernyataan yang dikeluarkan Telkom University sebagian besar digunakan untuk menyudutkan united voice dan dirinya pribadi, selaku yang menemani korban.

“Jika benar proses pengujian yang dilakukan pihak Telkom bersama pihak Ahli dalam menguji kebenaran kronologis maupun publikasi adalah benar adanya. Seharusnya surat pernyataan ini menjelaskan bagian apa saja yang keliru tetapi malah tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai bagian dari publikasi tersebut,” jelas Bahrul dalam keterangannya, Selasa (31/12).

Ia mengatakan, kesimpulan yang diambil pihak Telkom University dinilai gegabah, mengingat pihak korban tidak dihadirkan, pelaku tidak dihadirkan, dan dia sebagai salah satu pendamping korban tidak berada langsung pada hearing tersebut.

“Kampus tidak cover both side,” katanya.

Ia mengaku, kronologis yang disusun berdasarkan kesaksian korban, kesimpulan dari sidang himpunan serta berdasarkan fakta-fakta lapangan.

Bahrul menyangkan pihak kampus yang hanya melakukan proses investigasi selama satu hari tetapi menyatakan informasi yang dibuat dirinya ‘tidak sepenuhnya benar’.

Padahal, dalam sidang yang digelar himpunan, pelaku telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf di hadapan peserta sidang.

Dirinya sangat menyayangkan pihak Telkom University justru malah menyudukan United Voice, selaku organisasi yang mendampingi korban.

Seharusnya, kata Bahrul, pihak kampus berfokus pada penanganan korban, dan memberikan arahan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

Beri Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here